Umat Keuskupan Timika Diimbau untuk Berkebun.

Gerakan Tungku Api yang dideklarasikan Alm. Uskup John P Saklil, Pr. (Ist – SP)

Pastor Kuayo menjelaskan, Uskup Almarhum Mgr. Jhon Saklil Pr punya kata terakhir adalah sebagai gembala dia meminta untuk umat jangan jual tanah karena masyarakat Papua itu hidup dari tanah dan tidak akan hidup dari uang.

Ia menegaskan supaya, umat Katolik di Keuskupan Timika Jangan jual tanah Gerekan tungku api kehidupan, menghargai tanah, mengahargai alam  mengelola lahan yang ada. Gerakan tungku api oleh almhum itu sebagai ajakan yang bagus mungkin kata-kata terakhir sebelum beliau meninggal.

“Saya mengajak umat keuskupan timika kembali ke ajakan Almarhum Mgr. John Saklil, Pr  seperti juga Yesus mengadakan perjamuan terakhir dia memberikan dirinya untuk sahabat murid-muridnya. Sama hal dimana almarhum mengajak umat keuskupan timika dan masyarkat Papua ntuk mengelolah tanah. Jangan jual tanah, tapi melindungi dan mengelolah,” tegasnya kepada suarapapua.com pada Senin, (27/4/2020) Timika, Papua.

Kata Pastor Marthen, Jadi kita melindungi tanah sekaligus kita diajak untuk mengelolah tanah.

“Sebelum Corona ini tiba Uskup mengajak untuk mengelolah tanah dan saya rasa ajakan uskup ini pada saat situasi seperti sekarang ini cocok umat keuskupan timika untuk melanjutkan gerakan tungku api kehidupan, menelolah tanah yang sudah menjadi kata-kata terakhir uskup.”

“Saya mengajak siapa yang mencintai uskup, umat keuskupan timika dia harus mengelola tanah, dengan tidak menjual tanah,tetapi harus mengelolah tanah, melindungi tanah sebagai kepatuhan akan cinta kita kepada pesan uskup kita alm. Mgr. Jhon,” katanya.

Ia mengungkapkan, Gerakan mengelolah tanah ini sudah ada sejak tahun 2016. Tapi almarhum uskup sudah mengajak masyarakat sejak tahun 2010. D

ia mengajak dirinya sebagai gembala agar umatnya untuk bekerja kebun, menhargai tanaman lokal dan menghidupi dirinya dengan apa yang dikasih oleh Tuhan merupakan geraka yang dibangun oleh uskup.

“Dan gerakan bersama didalam pastoral itu dilakukan tahun 2016 di keuskupan timika dan ini sedang jalan. Jadi saya ajak semua umat di Kesukupan Timika supaya jangan jual tanah dan kembali berkebun. Lalu harus makan makanan lokal,” katanya.

By Arnold Belau –  27 Apr 2020, 5:08 WP 03. 

Mati Di Atas Tanah Emas.

Puisi.

Di tanah emas, aku berbaring,
Mati dalam keheningan yang mengejutkan.
Bintang-bintang di langit berkelip,
Mengawasi perjalanan terakhirku.

Kehidupan telah memberiku kekayaan,
Tapi kini, aku kembali ke tanah.
Emas yang berkilauan di bawah sinar matahari,
Menjadi tempat peristirahatan terakhirku.

Ku rasa hembusan angin malam,
Membisikkan lagu pengantar tidurku.
Aku merasakan kehangatan tanah emas,
Menyelimuti tubuhku yang lelah.

Aku mati di atas tanah emas,
Tapi jiwaku terbang bebas.
Aku meninggalkan dunia fana,
Menuju alam yang abadi.

Di tanah emas, aku beristirahat,
Tapi cerita hidupku akan tetap abadi.
Karena meski tubuhku telah mati,
Jiwaku akan selalu hidup dalam kenangan.

“Kemanusiaan Itu Melebihi Agama Apapun”
#Save generasi penerus papua
#Save kedua anak sekolah dasar (sd)
Senin, 08/04/24.
Kab. intan Jaya.
Papua Tengah

Klik Google – https://kagetpapua.art.blog