Di Bawah Kubah, Jari Menari

Senja merangkak, menyelimuti kota,
Hati sepi, merindukan kata.
Langkah kaki menjejakkan diri,
Menuju gereja, mencari sunyi.

Kubah menjulang, menyapa jiwa,
Menawarkan damai, menghapus duka.
Di bangku kayu, duduk terdiam,
Menatap piano, hati berbisik dalam.

Jari-jari meraba tuts piano,
Melukis melodi, mengurai rindu.
Nada mengalun, menenangkan jiwa,
Menghilangkan sepi, menyapa bahagia.

Dalam lantunan, hati bernyanyi,
Menyapa Tuhan, dalam sunyi.
Kesenangan tercipta, di tengah sepi,
Melalui melodi, hati terbebas dari mimpi.

Di sini, di bawah kubah yang meneduhkan,
Jari menari, hati menemukan.
Hiburan tercipta, dalam lantunan nada,
Menyembuhkan luka, menenangkan jiwa.

Puisi, MU
Timika, 02 Agustus 2024.

Mati Di Atas Tanah Emas.

Puisi.

Di tanah emas, aku berbaring,
Mati dalam keheningan yang mengejutkan.
Bintang-bintang di langit berkelip,
Mengawasi perjalanan terakhirku.

Kehidupan telah memberiku kekayaan,
Tapi kini, aku kembali ke tanah.
Emas yang berkilauan di bawah sinar matahari,
Menjadi tempat peristirahatan terakhirku.

Ku rasa hembusan angin malam,
Membisikkan lagu pengantar tidurku.
Aku merasakan kehangatan tanah emas,
Menyelimuti tubuhku yang lelah.

Aku mati di atas tanah emas,
Tapi jiwaku terbang bebas.
Aku meninggalkan dunia fana,
Menuju alam yang abadi.

Di tanah emas, aku beristirahat,
Tapi cerita hidupku akan tetap abadi.
Karena meski tubuhku telah mati,
Jiwaku akan selalu hidup dalam kenangan.

“Kemanusiaan Itu Melebihi Agama Apapun”
#Save generasi penerus papua
#Save kedua anak sekolah dasar (sd)
Senin, 08/04/24.
Kab. intan Jaya.
Papua Tengah

Klik Google – https://kagetpapua.art.blog

Kemanusiaan itu Melebihi Agama Apapun

Kemanusiaan, ia seperti matahari terbit,
Menerangi semua tanpa membeda-bedakan.
Agama mungkin berbeda, namun hati kita satu,
Bersama dalam cinta, dalam kasih sayang yang abadi.

Kemanusiaan, ia seperti sungai yang mengalir,
Memberi kehidupan tanpa memilih.
Agama mungkin berbeda, namun tujuan kita sama,
Mencari kebenaran, mencari kedamaian dalam jiwa.

Kemanusiaan, ia seperti angin yang berhembus,
Menyentuh semua tanpa memandang agama.
Karena di mata Tuhan, kita semua sama,
Hanya hati yang tulus, yang dapat melihat cinta-Nya.

Jadi, mari kita berjalan bersama, dalam cahaya kemanusiaan,
Melampaui batas agama, ras, dan bangsa.
Karena di balik semua perbedaan itu,
Kita semua adalah satu, dalam cinta dan kasih sayang.

Giggle Klik kagetpapua.art.blog

Bagaikan Anak Panah

Kagetpapua –  Timika | Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” Mazmur 127:4

Sadarkah kita, bahwa kita adalah anak panah Tuhan? Jika kita menyadarinya, kita tidak akan sembarangan dengan hidup kita. Agar anak panah bisa berfungsi dengan baik, ia harus melewati proses tertentu.

  1. DILURUSKAN & DITANAMKAN
    Anak panah adalah karunia, talent, dan gift yang Tuhan taruh dalam hidup kita. Anak panah yang tidak tajam tidak akan menghasilkan apa-apa, tidak tertusuk pada sasaran, dan akan mental. Kita baru dapat berfungsi dengan baik dan tepat sasaran jika kita tajam dan lurus.

Untuk menjadi anak panah yang tajam, kita perlu mengasah kemampuan, karakter, dan kepekaan kita. Lewat kepekaan ini, secara otomatis karunia yang Tuhan berikan akan berfungsi untuk menolong, menghibur, dan membangun orang-orang di sekitar kita karena melayani itu bukan tentang diri kita sendiri, tetapi tentang Tuhan dan jemaat-Nya.

Selain itu, hal yang benar-benar dapat mempertajam kita adalah Firman Tuhan. Lewat Firman-Nya, Ia

memberi tahu kita tentang apa yang berkenan bagi-Nya. Sediakan waktu untuk membaca dan merenungkan Firman-Nya. Kalau kita kuat dalam Firman, kita tidak akan berjalan sembarangan saat menghadapi masalah karena kita tahu persis apa janji Tuhan.

Lalu untuk menjadi anak panah yang lurus, tidak ada cara lain selain menjaga hati kita tetap lurus di hadapan Tuhan. Pasti kita pernah mengalami masa di mana hati kita bengkok. Tapi terus berusaha untuk menjaga hati dan lakukan apa yang benar di mata Tuhan.

  1. DIARAHKAN
    Anak panah tidak bisa melesat sendiri. Ia harus dilepaskan oleh sebuah tangan dan kita percaya bahwa hidup kita ada di tangan yang tepat dan penuh kuasa, yaitu Yesus. Seringkali, kita tidak sampai ke sasaran karena mengikuti yang kita mau, bukan yang Tuhan mau. Maka itu, kita perlu kerendahan hati, mau mendengarkan-Nya dan juga pemimpin di sekitar kita.

Saat kita mau diarahkan, kita akan berfungsi dengan baik. Sang Pahlawan sepenuhnya berhak untuk

mengarahkan kita. Teruslah setia dengan apa yang dipercayakan kepada kita.

  1. DISEIMBANGKAN
    Kehidupan spiritual dan jasmani kita harus berjalan seimbang. Kita tidak mungkin melayani terus di gereja tanpa melayani keluarga kita. Kita tidak mungkin melayani terus tanpa berdoa ataupun istirahat. Kita juga tidak bisa hanya sibuk cari uang, tapi tidak memberanikan diri untuk memberkati orang lain. Perhatikan hal-hal di hidup kita yang perlu diseimbangkan.

Saat anak panah tajam, lurus, terarah, dan seimbang, kita juga harus mengerti bahwa ada waktu di mana anak panah harus ditarik jauh ke belakang untuk dilesatkan menuju sasaran. Seringkali saat kita merasa siap dilesatkan, Tuhan izinkan masa di mana kita merasa jauh, mundur, gagal, dan seperti seorang diri saja. Doa belum terjawab, keinginan tidak terpenuhi, dan banyak hal yang membebani.

Tapi sesungguhnya, Tuhan yang ingin melesatkan kita ke tempat yang lebih jauh lagi; ke level yang lebih tinggi. Maka itu, jangan menyerah. Percayalah bahwa Tuhan tidak pernah salah dan lalai dalam rencana-Nya. Semakin jauh kita ditarik, semakin besar kuasa-Nya yang akan dinyatakan. Semakin berat yang kita hadapi, semakin melimpah berkat yang disediakan bagi kita.

Itulah sebabnya setiap anak panah harus disimpan di tempat yang benar; di dalam tabungnya Tuhan:

“Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya.” – Yesaya 49:2

Hadirat Tuhan adalah tempat teraman bagi kita. Kita ada di tangan-Nya dan pada saat yang sama, Ia menyempurnakan tangan kita menjadi seperti tangan pahlawan sehingga setiap karunia yang kita lepaskan akan memuliakan-Nya. Kita akan menjadi perpanjangan tangan Tuhan, menghancurkan musuh, dan menjangkau banyak jiwa agar dapat mengenal-Nya.

“Ia melatih aku untuk berperang, sehingga aku dapat merentangkan busur yang paling kuat.” – 2 Samuel 22:35

Senja Yang Indah

Senja Tibar (Tigi Barat)

Keemasan cahaya di cakrawala
Di ufuk barat saat hari mulai senja
Terbelalak mata saat memandangnya
Keindahan dari sang maha pencipta

Sang surya bersiap untuk tenggelam
Menjemput mesra ketenangan malam
Meneguk cahaya dalam-dalam
Menyempurnakan keindahan malam

Lembayung indah tampak kekuningan
Gradasi warna bagaikan lukisan
Di sudut langit yang tipis berawan
Hiasan terbesar sepanjang zaman

Bayang pegunungan semakin panjang
Terpantul diatas air yang tenang
Duduk memandang cahaya yang semakin hilang
Menyambut datangnya malam

Danau Tigi diwaktu petang
Lukisan nyata keindahan alam
Penghapus lelah dan kepenatan
Menghibur hati dikala bimbang

Danau Tigi anugrah Tuhan
Danau Tigi pemberi ketenangan
Pada setiap mata yang memandang

Foto, 10/01/2019.

Mengintai dini hari ketika petang

Piringan matahari mulai lenyap, Amungsa: 13 Nov 22

Piringan matahari mulai lenyap, memberi isyarat pada langit biru, untuk sejenak mengalah, dalam dekapan senja

Menuju malam, senja mulai menyombongkan paras, seolah tak mungkin terhapus, oleh kelam yang sunyi

Mendekap malam, seru angin di tengah kesunyian, untuk temani jiwa sepi yang gamang sulit memejam.

@kagetpapua