Kagetpapua – Timika | “Berusaha bukan menjadi manusia sukses, tapi berusahalah menjadi manusia yang berguna” adalah menggambarkan pentingnya memiliki tujuan hidup yang lebih besar dari sekedar mencapai kesuksesan pribadi. Kesuksesan sejatinya bukan hanya sekedar mencapai tujuan dan keinginan pribadi, namun juga bagaimana kita bisa memberikan manfaat dan kontribusi positif kepada orang lain dan masyarakat sekitar kita.
Dalam dunia yang kompetitif dan individualistis saat ini, kita sering terjebak dalam upaya mencapai kesuksesan pribadi tanpa memperhatikan dampaknya terhadap orang lain. Namun kutipan ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati dan makna hidup yang sebenarnya bisa kita temukan ketika kita bisa berguna bagi orang lain.
Menjadi manusia yang berguna berarti memiliki empati, kepedulian, dan kemauan membantu orang lain. Hal ini mendatangkan kepuasan batin yang jauh lebih dalam daripada sekedar mencapai pencapaian materi atau popularitas. Dengan menjadi manusia yang bermanfaat, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik, mempererat hubungan sosial, dan memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Oleh karena itu, saya yakin pesan dalam kutipan ini sangat relevan dan penting untuk dijadikan pedoman dalam menjalani hidup. Kita semua bisa berupaya untuk tidak hanya menjadi manusia sukses saja, namun lebih dari itu, menjadi manusia yang berguna dan memberikan nilai tambah bagi dunia di sekitar kita.
Kagetpapua – Timika | Telah berpulang kepada Sang Pencipta Langit dan Bumi, Ketua Komunitas Generasi Terlantar (GETAR) Selino Gobai, di rumahnya pada pukul 13.45 tanggal 23 Juni 2024 Jln. Panimbar-Koteka .
Selino Gobai merupakan Ketua Komunitas yang selalu berupaya mendidik Generasi Muda untuk menjauhi atau melawan penyakit-penyakit sosial (Miras, Narkoba, Ganja, Lem Rubah, dan Seks Bebas) serta selalu turut serta dalam memberikan edukasi/literasi dan pelatihan kepada Generasi Muda melalui komunitas Getar.
Jiwa muda, jiwa antusias, jiwa humoris, jiwa konsisten, dan jiwa eksekutor lenyap dalam sekejap.
Sobat Selino, Terima kasih atas dedikasi dan totalitasnya di Komunitas untuk mendidik, mengajar dan mengembangkan manusia menjadi manusia seutuhnya. Kami sahabat Komunitas Getar belum pasrah untuk berpisah, namun takdir berkehendak lain, selamat tinggal kawan, semua rencana yang ada di masyarakat akan kami laksanakan dan terus jaga dan lindungi generasi muda Papua dari kemiskinan dan kebodohan.
Kagetpapua – Timika | Ada seorang petani yang sangat rajin bernama yimobi . Dia tinggal di sebuah desa kecil di Papua. Setiap hari, Yimobi bangun pagi-pagi untuk merawat kebunnya. Dia menanam berbagai jenis tanaman, mulai dari sayuran hingga buah-buahan. Kebunnya selalu tampak hijau dan subur, penuh dengan hasil panen yang melimpah.
Namun, meski yimobi sangat rajin dalam merawat kebunnya, dia selalu merasa ada yang kurang. Dia merasa hidupnya kosong dan tidak ada artinya. Dia merasa seolah-olah dia hanya menjalani rutinitas harian tanpa tujuan yang jelas.
Suatu hari, seorang bijak datang ke desa itu. Dia mendengar tentang kegelisahan Yimobi dan memutuskan untuk menemui dia. Sang bijak mengajarkan Yimobi bahwa, seperti merawat kebunnya, dia juga perlu merawat ‘kebun rohaninya’. Dia perlu menanam benih-benih kebaikan, kesabaran, dan kasih sayang dalam hatinya. Dia perlu menyirami benih-benih ini dengan doa dan meditasi, dan memupuknya dengan tindakan baik dan pikiran positif.
Yimobi mulai menerapkan nasihat bijak itu dalam hidupnya. Dia mulai meluangkan waktu setiap hari untuk berdoa, meditasi, dan melakukan tindakan baik kepada orang lain. Dia merasa hidupnya menjadi lebih berarti dan penuh. Dia merasa seolah-olah dia telah menemukan tujuan hidupnya.
Ingatlah bahwa merawat kebun rohani bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dalam sehari. Ini membutuhkan waktu dan usaha yang konsisten. Tapi percayalah, hasilnya pasti akan sangat berharga.
Cerita ini mengajarkan kita bahwa, meski penting untuk merawat kebun jasmani kita, juga penting untuk merawat ‘kebun rohani‘ kita. Kita perlu menanam dan merawat benih-benih kebaikan dalam hati kita, dan memupuknya dengan tindakan baik dan pikiran positif. Hanya dengan cara ini, kita dapat merasa hidup kita penuh dan berarti.
Kemanusiaan, ia seperti matahari terbit, Menerangi semua tanpa membeda-bedakan. Agama mungkin berbeda, namun hati kita satu, Bersama dalam cinta, dalam kasih sayang yang abadi.
Kemanusiaan, ia seperti sungai yang mengalir, Memberi kehidupan tanpa memilih. Agama mungkin berbeda, namun tujuan kita sama, Mencari kebenaran, mencari kedamaian dalam jiwa.
Kemanusiaan, ia seperti angin yang berhembus, Menyentuh semua tanpa memandang agama. Karena di mata Tuhan, kita semua sama, Hanya hati yang tulus, yang dapat melihat cinta-Nya.
Jadi, mari kita berjalan bersama, dalam cahaya kemanusiaan, Melampaui batas agama, ras, dan bangsa. Karena di balik semua perbedaan itu, Kita semua adalah satu, dalam cinta dan kasih sayang.
Kagetpapua – Timika | Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” Mazmur 127:4
Sadarkah kita, bahwa kita adalah anak panah Tuhan? Jika kita menyadarinya, kita tidak akan sembarangan dengan hidup kita. Agar anak panah bisa berfungsi dengan baik, ia harus melewati proses tertentu.
DILURUSKAN & DITANAMKAN Anak panah adalah karunia, talent, dan gift yang Tuhan taruh dalam hidup kita. Anak panah yang tidak tajam tidak akan menghasilkan apa-apa, tidak tertusuk pada sasaran, dan akan mental. Kita baru dapat berfungsi dengan baik dan tepat sasaran jika kita tajam dan lurus.
Untuk menjadi anak panah yang tajam, kita perlu mengasah kemampuan, karakter, dan kepekaan kita. Lewat kepekaan ini, secara otomatis karunia yang Tuhan berikan akan berfungsi untuk menolong, menghibur, dan membangun orang-orang di sekitar kita karena melayani itu bukan tentang diri kita sendiri, tetapi tentang Tuhan dan jemaat-Nya.
Selain itu, hal yang benar-benar dapat mempertajam kita adalah Firman Tuhan. Lewat Firman-Nya, Ia
memberi tahu kita tentang apa yang berkenan bagi-Nya. Sediakan waktu untuk membaca dan merenungkan Firman-Nya. Kalau kita kuat dalam Firman, kita tidak akan berjalan sembarangan saat menghadapi masalah karena kita tahu persis apa janji Tuhan.
Lalu untuk menjadi anak panah yang lurus, tidak ada cara lain selain menjaga hati kita tetap lurus di hadapan Tuhan. Pasti kita pernah mengalami masa di mana hati kita bengkok. Tapi terus berusaha untuk menjaga hati dan lakukan apa yang benar di mata Tuhan.
DIARAHKAN Anak panah tidak bisa melesat sendiri. Ia harus dilepaskan oleh sebuah tangan dan kita percaya bahwa hidup kita ada di tangan yang tepat dan penuh kuasa, yaitu Yesus. Seringkali, kita tidak sampai ke sasaran karena mengikuti yang kita mau, bukan yang Tuhan mau. Maka itu, kita perlu kerendahan hati, mau mendengarkan-Nya dan juga pemimpin di sekitar kita.
Saat kita mau diarahkan, kita akan berfungsi dengan baik. Sang Pahlawan sepenuhnya berhak untuk
mengarahkan kita. Teruslah setia dengan apa yang dipercayakan kepada kita.
DISEIMBANGKAN Kehidupan spiritual dan jasmani kita harus berjalan seimbang. Kita tidak mungkin melayani terus di gereja tanpa melayani keluarga kita. Kita tidak mungkin melayani terus tanpa berdoa ataupun istirahat. Kita juga tidak bisa hanya sibuk cari uang, tapi tidak memberanikan diri untuk memberkati orang lain. Perhatikan hal-hal di hidup kita yang perlu diseimbangkan.
Saat anak panah tajam, lurus, terarah, dan seimbang, kita juga harus mengerti bahwa ada waktu di mana anak panah harus ditarik jauh ke belakang untuk dilesatkan menuju sasaran. Seringkali saat kita merasa siap dilesatkan, Tuhan izinkan masa di mana kita merasa jauh, mundur, gagal, dan seperti seorang diri saja. Doa belum terjawab, keinginan tidak terpenuhi, dan banyak hal yang membebani.
Tapi sesungguhnya, Tuhan yang ingin melesatkan kita ke tempat yang lebih jauh lagi; ke level yang lebih tinggi. Maka itu, jangan menyerah. Percayalah bahwa Tuhan tidak pernah salah dan lalai dalam rencana-Nya. Semakin jauh kita ditarik, semakin besar kuasa-Nya yang akan dinyatakan. Semakin berat yang kita hadapi, semakin melimpah berkat yang disediakan bagi kita.
Itulah sebabnya setiap anak panah harus disimpan di tempat yang benar; di dalam tabungnya Tuhan:
“Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya.” – Yesaya 49:2
Hadirat Tuhan adalah tempat teraman bagi kita. Kita ada di tangan-Nya dan pada saat yang sama, Ia menyempurnakan tangan kita menjadi seperti tangan pahlawan sehingga setiap karunia yang kita lepaskan akan memuliakan-Nya. Kita akan menjadi perpanjangan tangan Tuhan, menghancurkan musuh, dan menjangkau banyak jiwa agar dapat mengenal-Nya.
“Ia melatih aku untuk berperang, sehingga aku dapat merentangkan busur yang paling kuat.” – 2 Samuel 22:35
Kagetpapua – Timika | OMK (Orang Muda Katolik) Gereja Kapela Tillemans Hati Kudus Yesus (Ema-Owaa) menyelenggarakan kegiatan pendalaman kitab suci yang dipandu oleh Suster #Agnita_Degei dan itu seru diikuti oleh puluhan peserta yakni; OMK, Misdinar dan sekami. Pada selasa, (12/09/2023). Pukul 14:00 – selesai di dalam Gereja Kapela Tillemans hati Kudus Yesus (Ema-Owaa). Jalan perintis Timika indah, Papua Tengah.
Kegiatan yang dilaksanakan ini bertujuan untuk membina dan meningkatkan iman, makin mengenal memahami menghayati firman dan memberi semangat pada peserta untuk membaca dan merenungkan firman, serta meningkatkan wawasan, membangun rasa solidaritas dan persaudaraan antara kebersamaan.
Mengambil tema “Allah Memberi Kasih dan Keselamatan”, Berikut satu subtema BKSN 2023 untuk direnungkan adalah “Kasih Allah Menggerakkan Pertobatan” yang dikutip dari kisah Kitab Nabi Yunus 4:1-11. Itulah 1 subtema BKSN 2023 yang akan direnungkan untuk peserta untuk sebulan kedepan.
Dalam Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2023 ini, kita diajak untuk mendalami tema tentang Allah sebagai sumber kasih dan keselamatan. Tema ini terinspirasi oleh dua kitab nabi-nabi kecil, yaitu Yunus dan Yoel. Kedua kitab ini dengan tegas menyatakan: “Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia”
Peningkatan kreativitas dalam kegiatan mewarnai dengan menggunakan metode demonstrasi atau Kata Sharing: Berbagi Makna dan Pengalaman yang telah di bawahkqn oleh para peserta yang mengikuti kegiatan tersebut.
Jhon_Dawapa, sebagai Ketua panitia pelaksana bulan kitab suci memberikan cendera mata kepada Suster Agnita Degei yaitu; Satu Noken dan Satu Gelas yang bertulisan OMK Tillemans sebagai salah satu bentuk apresiasi dan mempererat persaudaraan.
Usai berfoto-foto bersama Suster Agnita Degei dalam gereja kapela Tillemans, Saudari Yosphin Wakei yang menjadi narator itu mengarahkan semua peserta ke samping gereja kapela Tillemans (Ema-Owaa) untuk makan bersama.
Dengan adanya pendalaman iman kitab suci, Mari kita renungkan dalam setiap pribadi kita masing-masing, dan bila perlu kita bisa melakukan konsultasi dengan teman-teman kita, Bapak/Ibu, Para OMK dan Misdinar atau para Suster. Akhir kata, Selamat membaca Kitab Suci, dan Salam sejahtera untuk kita semua.
Kagetpapua – Timika | Agustinus Youw sebagai kordinator seksi seni budaya OMK Gereja Kapel Tilemans Hati Kudus Yesus (Ema-Owaa) menetapkan program kursus untuk mempelajari langkah awal bermain gitar klasik/akustik. Kegiatan belajar gitar hari pertama dimulai di Kapel Tilemans Ema-Owaa. Timika Papua Tengah pada Rabu (28 Juni 2023) pukul 15.00.
Program ini bertujuan untuk memperkenalkan cara bermain gitar klasik/akustik yang dapat membantu membangun rasa percaya diri dan merangsang minat mereka dalam bermain gitar klasik/akustik sehingga hasil dari pelatihan itu dapat diimplementasikan sehingga vokal grup di Gereja semakin meningkat memainkan gitar.
Bapak. Agustinus Youw menetapkan dalam satu minggu ada dua kali pertemuan pada hari Rabu dan Sabtu. Waktu yang akan di gunakan selama proses belajar yaitu mulai sore jam 14.00 berkumpul di halaman kapel Tillemans dan sore hari jam 15.00 memulai proses belajar gitar.
Saya seorang musisi dengan berpengalaman 8 tahun sebagai gitaris dan pernah mengikuti lomba gereja antar stasi serta menjuarai beberapa perlombaan tingkat stasi. Kata Agus
Agus youw mengatakan bahwa, bukan hanya ditujukan untuk orang lain tapi juga untuk memotivasi diri saya sendiri dan saya pun sangat bersyukur kalau semua bisa bermain gitar agar kedepan kami bersama bisa bermain gitar di dalam gereja katolik Kapel Tillemans (Ema-Owaa).
Lanjut Agus Youw, “Meskipun kekurangan musik dalam pelatihan yang ditentukan, saya akan terus mengajarkan langkah awal dengan cara saya untuk mengembangkan dan berbagi bakat yang saya miliki kepada rekan-rekan OMK (Orang Muda Katolik) Kapel Tilemans Ema-Owaa Timika”.
Menurutnya, Metode pembelajaran saya lebih kepada memahami dan menghafal dengan santai, karena pemahaman memudahkan kita untuk mengingat kembali materi yang telah dipelajari. Ujar Agus
* Pemula: Pengenalan nada dasar pada senar gitar, pengenalan akord dasar, latihan dasar, macam-macam petikan, kunci gitar, nada dasar, dan teknik dasar.
* Target: Mengetahui bagaimana susunan chod bisa menjadi sebuah lagu dan mencari chord sendiri pada lagu umum.
Untuk pelatihan tingkat lanjutan, kombinasi antara memahami, praktek dan menghafal berlaku agar bisa bermain dengan lebih maksimal.
Sangat cocok untuk pemula maupun yang sudah bisa namun ingin mendalami.
Tata tertib;
1. Tepati waktu 2. Jika mempunyai gitar harus bawah 3. Waktu belajar duduk yang sopan 4. Dilarang menggunakan kontak fisik 5. OMK yang akan mengikuti kurus, harus punya no WA.
Kunci kunci gitar yang kita akan mempelajari adalah !
1. Mengenal kunci dasar gitar ( Chord gitar)
1.1.1. Kunci A mayor 1.2.2. Kunci Am 1.3.3. Kunci B mayor 1.4.4. Kunci Bm 1.5.5. Kunci C mayor 1.6.6. Kunci D 1.7.7. Kunci Dm 1.8.8. Kunci E mayor 1.9.9. Kunci Em 1.10.10. Kunci F mayor 1.11.11. Kunci Fm 1.12.12. Kunci G mayor 1.13.13. Kunci Gm
2. Memainkan gitar bagi pemula
2.1.1. Melatih dan merawat jari dan memori otot tangan 2.2.2. Mempelajari kunci gitar serta menghafalnya 2.3.3. Menggunakan referensi saat latihan 2.4.4. Mempelajari dan fokus pada sebuah lagu yang memang kamu sukai
3. Kesimpulan
Bagi grameds yang memiliki keterkaitan atau sedang belajar alat musik ini, gitar memiliki tuju (7) kunci dasar yaitu kunci A, kunci B, kunci C, kunci D, kunci E, kunci F, kunci G. Setiap masing-masing kuncinya berbeda nada yang memiliki nada mayor maupun minor.
Pelatih akan menggunakan gitar akustik/klasik Akan dilatih oleh, Agustinus Youw
Salam Hormat. Tetap semangat, tetap pada posisi orang muda Katolik Tuhan memberkati.
Kagetpapua – Timika |Ratusan umat Katolik di gereja Kapela Tillemans hati Kudus Yesus (Ema-Owaa) Timika di sambut kirab Salip Pra-IYD 2023 dengan sapaan adat suku Mee tarian (Kote dan moge) di Depan Emeneme Yaware, Timika indah Kamis 05 Juni 2023. Pukul 15:30 wit.
Pengurus setempat menerima kirab Salib IYD 2023 dan Salib ini pikul dan diarak di dalam gereja Kapela Tilemans (Ema-Owaa)Timika. Sepanjang Jalan, tampak ratusan umat berdiri menyambut kedatangan Salib IYD 2023.
OMK (Orang Muda Katolik) Memikul salib Pra-IYD 2023 Di depan Gereja Kapel kapal Tillemans Ema-Owaa.
Selanjutnya, Salib IYD 2023 disemayamkan selama dua malam di Gereja Kapela Tilemans (Ema-Owaa) Timika. Kemudian Salib ini akan diarak menuju Kapela jalan baru pada hari Rabu 07 Juni 2023.
Sumber Doc OMK Kapela Tillemans hati Kudus Yesus ( Ema-Owaa) Timika.
Sumber doc, OMK Tillemans hati Kudus Yesus (Ema-Owaa) Timika.
Kagetpapua – Timika | Sejumlah anak muda mulai dari usia sekolah dasar hingga menengah mengikuti Pelantikan Calon Misdinar dan Pembaharuan Janji Misdinar Kapela Tillemans hati Kudus Yesus Ema-Owaa, Minggu (19/03/2023). Misa Pelantikan Misdinar ini juga dipimpin oleh Asisten Iman Bapak. Yoseph Yikim dan Petrus Gobai berlangsung Sore pukul 15:30. WP.
Bacaan Injil Misa sore itu adalah “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” Pada siang hari Yesus mengajar di Bait Allah dan pada malam hari Ia keluar dan bermalam di gunung yang bernama Bukit Zaitun. Dan pagi-pagi semua orang banyak datang kepada-Nya di dalam Bait Allah untuk mendengarkan Dia. (TB Luk 21:34-38)
Asisten iman Yoseph Yikim
Asisten iman Yoseph Yikim juga mengapresiasi, kita mendengar dalam firman Tuhan menasehati kita untuk berjaga-jaga terhadap masa depan kita. Dalam kehidupan kita sehari-hari ada tingkatannya yaitu tingkatan anak-anak, tingkatan pemuda dan tingkatan orang tua, sehingga waktu kecil kita harus banyak belajar demi keselamatan kita. Keselamatan ada di dalam Tuhan Yesus, dan orang tua berkata pergi ke sekolah, sekolah untuk siapa? Untuk masa depan kita. Di masa lalu, anak-anak telah melayani umat, pastor dan asisten iman. Kami bersyukur untuk hari-hari yang akan datang, karena kami telah mendengar sesuatu dari firman Tuhan bahwa itu harus berjaga-jaga dan siap melalui pelayanan dan harus menaati orang tua karena siapa pun yang menaati orang tuanya sedang menjalankan perintah Tuhan. Apa yang kita baca dalam Injil Lukas adalah kompas kehidupan kita, jadi anak-anak harus banyak membaca, karena dengan membaca kita akan menemukan kehidupan baru yang lebih baik.
Membacakan visi yang telah dituliskan oleh para calon misdinar
Setelah homili, para calon misdinar mengucapkan Janji dan membacakan visi Misdinar, setelah itu asisten iman bapak. Yoseph Yikim memerciki air suci kepada para calon misdinar sebagai tanda bahwa mereka dilantik menjadi pelayan putri-putri altar. Asisten iman mengucapkan proficiat dan berpesan kepada para misdinar agar bertumbuh semangat melayani. “Selamat kepada misdinar yang dilantik, mari melayani dengan penuh cinta dan kesetiaan,” pintanya.
Usai misa pelantikan Pembina misdinar, Merry Songgonau saat mengapresiasi
Pembina misdinar, Merry Songgonau berpesan bahwa jangan berkecil hati, takutlah pada Tuhan dan Jangan malu dengan tugas dan tanggung jawab Anda.
Ketika ada masalah pada masing-masing member, jangan bicara dan bercerita dibelangan karena kita tidak sendirian disini, jika ada kejadian seperti itu kalian harus bicara dengan kakak kakak yang bisa kalian ajak bicara, dan jika kalian kewalahan dalam ketua atau bagian lain, Anda harus berbicara dengan pembina di sini. Ajakan Merry Songgonau.
Para calon misdinar yang sejak muda sudah mau melayani. Sejak dini mereka sudah mau melayani, karena melayani adalah sebuah kesempatan. Penglihatan yang diberikan oleh Tuhan sore ini sungguh luar biasa. Tinggal dari kita, apakah mau menggunakan momen ini sebagai peristiwa yang membukakan mata rohani kita untuk turut melayani atau tidak.
Usai misa berfoto bersama kedua asisten imanUsai misa berfoto bersama kedua asisten iman
Dukungan penuh orang tua juga sangat dibutuhkan. Setelah misa, para misdinar berfoto bersama kedua asisten iman di depan depan kapela Tillemans hati Kudus Yesus Ema-Owaa Timika.
Nampak wajah keceriaan dan kegembiraan para misdinar baru atas pelantikan ini. “Perasaan sangat seneng, dengan akhirnya lega bisa dilantik setelah melalui perjuangan selama ini.
Kagetpapua – Jayapura | Pastor Reverendus Dominus Yanuarius Teofilus Matopai You, Pr dipilih Paus Fransiskus sebagai uskup Keuskupan Jayapura. Pastor Yanuarius akan menggantikan uskup Mgr. Leo Laba Ladjar OFM yang mengundurkan diri karena alasan usia.
Pengumuman resmi Vatikan ini dibacakan oleh Uskup Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM, di Gereja Katedral Jayapura sekitar pukul 19.00 WP, pada Sabtu (29/10/2022). Pastor Yanuarius menjadi orang asli Papua pertama yang menjadi uskup.
“Nuncio Apostolik menyampaikan kepada saya agar mengumumkan di Gereja lokal keuskupan ini bahwa telah mengangkat seseorang untuk menjadi Uskup Jayapura yang baru. Dia adalah orang asli Papua yaitu Pastor Reverindus Dominus Yanuarius Teofilus Matopai You,” kata Mgr. Leo Laba Ladjar OFM membacakan maklumat Paus Fransiskus.
Yanuarius You dilahirkan di Uwebutu Paniai pada 1 Januari 1961, anak kedua dari enam bersaudara dari pasangan Lukas You dan Rosalina Tatogo. Ia menempuh pendidikan formal SD YPPK St. Don Bosco Uwebutu, SMP YPPK St. Fransiskus Assisi Epouto, SPG Taruna Bakti Waena, Sekolah Tinggi Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur, Tahun Spritualitas dijalankan di Manado, Magister Bidang Psikologi Universitas Gadjah Mada 2007-2010, dan Doktor Bidang Antropologi Universitas Cenderawasih 2020.
Pada 16 Januari 1991, Yanuarius Teofilus Matopai You ditahbiskan menjadi pastor. Ia kemudian menjalankan tugas pastoral dengan tugas pertama sebagai Pastor Paroki Kristus Terang Dunia, Jiwika Kurulu Wamena 1991 sampai 1998. Kemudian menjadi Pastor Paroki St Wilbrodus Arso sekaligus Pastor Dekan Dekenat Kabupaten Keerom (1998-2002). Lalu melanjutkan pelayan sebagai pastor Paroki di Katedral Kristus Raja dan Vikaris Jenderal di Keuskupan Jayapura (2002-2006).
Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Teologi Katolik (STTK), Kepala Rumah Pembetukan Formasi Santo Yohanes Maria Vianney, Keuskupan Jayapura (2010-sekarang), Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Jayapura (2015-sekarang), Ketua Pengawas Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Santo Fransiskus Asisi, Ketua dan Dosen STFT Fajar Timur dan Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik di Waena (2020-sekarang).
Salah satu tokoh umat Katolik Papua, Markus Haluk menyatakan dipilihnya Pastor Yanuarius menjadi sejarah baru dalam gereja Katolik Papua karena untuk pertama kalinya Orang Asli Papua menjadi uskup.
“Terpilih Uskup Orang Papua merupakan doa dan harapan umat Katolik bahkan dedominasi Gereja di tanah Papua selama ini. Karena itu ketika diumumkannya Pastor Yanuarius You sebagai Uskup Jayapura secara spontan umat Katolik Keuskupan Jayapura sontak teriak histeris disertai tangis haru” kata Haluk kepada Jubi, pada Sabtu (29/10/2022) malam.
Haluk menyatakan uskup terpilih Yanuarius ini bukan sembarang orang melainkan salah satu pastor senior yang lama hidup ditengah umat dipedalaman Papua hingga di paroki kota. Menurut Haluk sosok uskup terpilih Yanuarius adalah benar-benar pastor lapangan yang kaya dengan pelangalaman pastoral.
Auki Tekege sebagai salah satu tokoh diantara sekian banyak tokoh yang telah membuka pagar Allah yang dibuat secara bertahap di tanah Papua dengan dorongan roh kudus. Tokoh-tokoh yang tercatat dalam sejarah pembukaan pagar Allah di tanah Papua ialah Ottouw dan Geisller di Mansinam Manokwari (Papua Utara) pada tahun 1855, Ardmanville d’cock di Kokonao (Papua Selatan) pada tahun 1902, Auki Tekege (1932-1934) dan lain-lain sebagainya.
Pada zaman simbiotik, banyak orang dari timur mengembara ke bagian barat pegunungan pusat. Salah satu marga yang pindah dari sekitar danau Tage ke Mapia adalah marga Tekege. Adalah Obasso Tekege, adik bungsu dari tiga bersaudara melarikan diri dari Tage (dimiya) ke Mapia karena bagian daging burung yang diinginkannya tidak diberikan oleh kedua kakaknya sehingga Obasso mengembara ke Tigi, pindah lagi ke Idadagi masuk daerah Mapia, menetap di Maymapa dan tidak lama kemudian pindah ke Modio. Keturunan Obasso sebagai berikut; Dodota, Menani, Wateisa, Mootoo, Memaha, Beneika, Siwaika, Bidahai dan Bedoubainawi (dikenal Auki).
Disebut Bedoubainawi karena semasa muda, Bedoubainawi mempunyai hoby berburu burung (Bedo = burung, ubai = cari, nawi = jalan). Sehingga ia sudah mengoleksi berbagai jenis burung. Sebagian besar dari burung yang dikoleksi adalah burung Cenderawasih. Bedoubainawi rupanya mempunyai maksud tertentu dibalik kegiatan koleksi burung Cenderawasih. Ia sering kali berjanji kepada masyarakatnya bahwa pada suatu saat ia akan menghadirkan Ogai-pii (dunia modern). Menginjak usia dewasa, Bedoubainawi mulai berburu keluar daerah Modio. Daerah yang sering dilalui adalah daerah Isago-doko (diantara Mapia dengan Kokonao). Di Isago ia berkenalan dengan seorang pemuda bernama Ikoko Nokuwo. Sering mereka berdua berjualan hasil bumi kepada orang-orang Kamoro (pantai selatan), dan diganti dengan kulit bia (mege = alat pembayaran), sambil latihan bahasa Kamoro. Kepala suku Kamoro dengan kepala perangnya sangat dikenal baik. Hari demi hari mereka dua mulai belajar bahasa Kamoro dan akhirnya menjadi fasih.
Bedoubainawi sudah lupa lagi dengan kampung kelahirannya di Modio. Namun pada suatu saat ia kembali ke kampung Modio tanpa membawah sesuatu apapun. Kedatangannya tidak disenangi masyarakat Modio yang ditinggalkan bertahun-tahun. Orang-orang Modio bertanya kepada Bedoubainawi “dimana ogaipii yang dari dulu kamu janji?“. Akhirnya masyarakat Modio memanggil TAPEHAUGI yang artinya orang yang tidak beruntung. Pada waktu itu hampir seluruh daerah Mapia terjadi perang. Perang itu terjadi antar klan/marga dan kampung akibat pencurian, perzinahan yang berbuntut pada pembunuhan yang sifatnya melanggar hukum Tota Mana. Sistem sangsi hukum pun tidak berlaku, hanya nyawa ganti nyawa. Dengan kata lain kebenaran-kebenaran itu semakin hilang.
Tapehaugi hampir setiap hari berpikir, bagaimana caranya sehingga masyarakat bisa hidup aman, damai dan rukun berdasarkan ajaran-ajaran Kabo mana dan Tota mana. Pada suatu hari Tapehaugi memutuskan pergi mengunjungi rekannya Ikoko Nokuwo di daerah Isago. Awal tahun 1930 Tapehaugi bersama istrinya Kesaimaga Gobay mulai berjalan menuju pantai selatan. Selama satu minggu mereka berjalan dari Modio bermalam di Mokobike, Boubaga, Dikitinai hingga di kampung Bidau. Dikampung Bidau ia bertemu Ikoko Nokuwo dan masyarakatnya bermarga Gabou-Kahame. Dari Bidau mereka menuju Wagikunu. Esoknya mereka menuju kampung Dowudi dan malam ketujuh mereka sampai di kampung Makaihawido. Di kampung itu Tapehaugi menetap lama dan membuat rumah.
Tak lama kemudian mereka pergi menjual hasil buminya ke Ugoubado (Pronggo) untuk ditukarkan dengan hasil bumi dari pantai. Sampai di Ugoubado mereka masuk dirumah kepala suku Kamoro. Pada malam hari Kepala Suku Kamoro menceritakan tentang orang-orang barat yang sedang mewartakan Injil di daerah Kokonao. Tapehaugi sangat tertarik dan ingin berjumpa dengan para misionaris tersebut. Namun Kepala Suku Kamoro itu tidak menceritakan dimana keberadaan para misionaris itu. Tapehaugi mengetahui maksud hati Kepala Suku dan berjanji setelah tiga bulan Tapehaugi dan rombongannya akan membawah hasil buruan dan makanan. Janji Tapehaugi diterima baik oleh Kepala Suku Kamoro.
Tiga bulan kemudian Tapehaugi bersama rombongannya membawah 40 ekor burung Cenderawasih (tune mepiha) yang sudah dikeringkan sebelumnya, ditambah makanan dan tembakau. Orang Kamoro pun sudah mempersiapkan kulit bia, 40 buah kampak batu (maumi) dan hasil laut lain sesuai perjanjian. Setelah pertukaran barang selesai, Kepala Suku Kamoro berjanji akan membawah para misionaris untuk berkenalan dengan Maihora (panggilan orang Kamoro kepada Tapehaugi). Dengan hati yang senang dan gembira Tapehaugi bersama rombongannya kembali ke Wagikunu.
Pada suatu hari sementara Tapehaugi sedang membuat kebun, tiba-tiba istrinya Kesaimaga memanggil: “Ke-ke..tobouga-gogo wake, akogeima kedeke kamena keino owegaimi”. Artinya ‘’hai orang Tobousa, jangan melamun, sahabat-sahabatmu sedang datang, mari jemput mereka”. Tapehaugi pun bergegas menjemput mereka. Sesampai dirumah ia berpapasan dengan orang-orang berkulit putih persis seperti anak yang baru lahir (detamagawa). Kepala suku Kamoro berkata kepada Auki: “Maihoga, inilah orang-orang yang mewartakan kabar gembira”. Maka mereka saling berkenalan satu sama lain. Orang-orang berkulit putih itu antara lain Pater Tillemans MSC dan dr Bijmler. Pada kesempatan itu tepat bulan April 1932. Tapehaugi menceritakan, “dibelakang gunung sana, orang seperti saya banyak, saya minta supaya kabar Injil diwartakan kepada rakyat saya yang berada dibalik gunung sana”, ungkap Tapehaugi berharap. Pater Tillemans berjanji setelah tiga tahun dirinya akan datang menuju Modio – Mapia. Selanjutnya Tapehaugi bersama istrinya kembali ke Modio.
Dalam perjalanan pulang, Tapehaugi mendapat nama baru dari seorang Malaikat di kampung / gunung Mokobike (Mouhago). Nama yang diberikan adalah AUKI – artinya laki-laki yang hebat dalam nada keheranan. Sesampainya di Modio, Auki menceritakan perjalanannya ke Kokonao termasuk nama yang baru diberikan itu. Orang-orang yang turut mendengar cerita Auki antara lain Minesaitawi Tatago, Metegaibi Kedeikoto, Dakeugi Makai dan teman sedawar lain yang masih hidup pada masa itu.
Pada tanggal 21 Desember 1935, P. Tillemans yang mengikuti Bijmler Ekspedisi menuju Modio. Setelah lima hari perjalanan, pada tanggal 26 Desember 1935 rombongan P. Tillemans dan Tuan Bijmler tiba di Modio. Pada waktu itu Ikoko Nokuwo memakai topi yang dibuat dengan rotan. Mereka disambut dengan Tupi Wani (Kapauku Folkdance) dan dipotong dua ekor babi sebagai pengucapan syukur atas kehadiran dua orang barat tersebut.
Selanjutnya Auki memerintahkan kepada Minesaitawi Tatago dan Dakeugi Makai untuk memanggil seluruh pimpinan masyarakat (Tonawi) yang ada diseluruh pedalaman Paniai. Sepuluh hari kemudian, para Tonawi tersebut tiba dengan rombongannya dengan membawa babi untuk pesta perdamaian [tapa dei]. Mereka yang turut hadir pada waktu itu antara lain Zoalkiki Zonggonao dan Kigimozakigi Zonggonau dari Migani, Gobay Pouga Gobay dari Paniai, Itani Mote dan Timada Badi dari Tigi, Papa Goo dari Kamu, Tomaigai Degei dari Degeuwo, Pisasainawi Magai dari Piyakebo, Dekeigai Degei dari Putapa, Enagobi Gobai dari Pogiano, Tubasawi Tebay dari Toubay, Mote Pouga Mote dari Adauwo dan Dakeugi Makai dari Pisaise, dll.
Pada tanggal 7 Januari 1936, Pater Tillemans memimpin Misa Kudus dan membuka Injil diatas batu didepan rumah Bapak Auki. Itulah misa pemberkatan pertama di kampung Modio. Setelah misa kudus, dilanjutkan dengan doa perdamaian (tapa dei) yang dipimpin oleh Auki. Dalam doa inti Auki meminta Minesaitawi dan Dakeugi untuk membunuh dua ekor babi yang telah dipersiapkan (Sabakina dan Bunakina). Ketika membunuh bunakina (babi hitam) Minesaitawi berkata: Aki mogaitaitage Mee (bagi yang akan berbuat zinah), aki oma nai tage Mee (bagi yang akan mencuri), aki pogo goutage Mee (bagi yang akan membunuh), aki Mee ewegaitage Mee (bagi yang akan menceritakan orang lain), aki pusa mana bokouto Mee (bagi yang akan menipu) kou ekinama dani kategaine. Artinya:saya samakan kamu yang akan melanggar ajaran Tota Mana dengan babi yang saya bunuh agar tidak terulang lagi.” Selanjutnya Dakehaugi membunuh babi putih yang sudah diikat di Pohon Otika. Setelah itu Dakehaugi memotong pohon Otika dan mengeluarkan darah merah pertanda persembahan diterima.
Setelah upacara perdamaian selesai, rombongan Pater Tillemans kembali ke Kokenau dan melaporkan perjalanan kepada Pimpinan Gereja di Langgur (Ambon) dan Pemerintah Hinda Belanda bahwa dipedalaman Paniai ada manusia. Laporan itu diketahui Assisten Residen Fakfak dan Bestuur Assisten di Kaimana dan meminta Pilot Letnan Dua Laut Ir. F. Jan Wissel untuk menelusuri daerah Pegunungan. Pada awal bulan Februari 1937 Pilot Wissel terbang dari Utara (Serui = Geelvink) ke arah Selatan (Babo) menggunakan pesawat Sikorsky milik perusahaan Nederlands Nieuw Guinea Petroleum Maatschapij (NNGPM) dan menemukan tiga buah danau dan perkampungan disekitar danau itu. Sejak saat itu danau Paniai, danau Tage dan danau Tigi dikenal Wisselmerren (bahasa Belanda artinya danau-danau Wisel). Selanjutnya pada bulan April 1938 P. H. Tillemans MSC ikut Ekspedisi Van Eachoud menuju Enarotali untuk membuka pos-pos pelayanan sekaligus menemui Tonawi-Tonawi yang sudah dikenal jauh sebelumnya di Modio, 1936.
Berita adanya manusia di Pedalaman Paniai didengar pula oleh Pendeta R. A. JAFFAR. Akhir tahun 1937 Pdt. R. A. Jaffar mengajukan permohonan dan meminta ijin kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk membuka penginjilan di daerah pedalaman Paniai dan permohon tersebut dikabulkan. Dari Makasar beliau berangkat menuju Bumi Cenderawasih untuk melihat secara langsung keadaan penduduk disana. Selanjutnya Pdt. R. A. Jaffar mengutus Pdt. Walter Post dan Pdt. Russel Dabler untuk merintis daerah pedalaman Paniai. Sesampai di Uta mereka berdua dijemput Yineyaikawi Edowai dan menuju daerah Paniai melalui sungai Yawei. Begitu tiba mereka bermalam di rumah Itani Mote di Yaba (Waghete).
Tahun-tahun berikutnya berturut-turut didatangkan penginjil-penginjil muda seperti Sam Pattipeiloi dari Ambon, Poltak Saragih asal Tapanuli dan Paja asal Kalimantan Timur bersama 20 orang dari Kalimantan Timur meninggalkan Makasar pada 5 Maret 1939. Mereka tiba di bumi Cenderawasih pada 20 April 1939. Berikut tahun 1941 datang pula beberapa lulusan SAM pada route yang sama yaitu Ch. D. Paksoal, P. Pattipeiloi, C. Akhiary (Ambon Sanger Talaut), Ajang Lajang, Salim dan Teringan asal Kalimantan Timur. Dari kalangan gereja Katolik datang pula beberapa guru-guru muda seperti Andreas Matorbongs ditempatkan di Enarotali, gr Meteray di Kugapa dan Petrus Letsoin di Yaba.
Segera sesudah itu perang dunia kedua meletus dan seluruh pelayanan misi dan zending diberhentikan. Beberapa misionaris dan pemerintah Belanda diinternir oleh tentara Jepang. Salah satu surat yang dilayangkan berbunyi: “Als de kontreleurs en de Pastoors zich niet aan de Japanners overgeven, hebben nedaar voor reeds twee grote kapmessen gereedliggen, een voor de pastoor en een voor mij”. Artinya jika pemerintah dari Belanda dan Pater tidak menyerahkan diri kepada pemerintah Jepang, mereka akan dipenggal kepalanya. Orang-orang Jepang telah menyediakan dua buah pisau besar, satu untuk penggal kepala para pastor, dan satu untuk saya (de Bruijn).
Mendengar informasi ini, para misionaris dan Pemeritah Belanda segera disembunyikan oleh orang-orang pedalaman di beberapa tempat seperti Komandoga, Siriwo dan Pegaitakamai. Orang-orang yang disembunyikan di Pegaitakamai antara lain Pater Tillemans, dr Rubiono dan DR. J.V. de Bruijn. Di gunung ini dokter Rubiono yang mengikuti kedua orang barat itu menemukan seorang bayi kecil (tuan tanah) dan disembunyikan dalam tas. Menurut orang Mapia hingga saat ini, dokter Rubiono adalah Ir Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama. Walaupun dalam dokumen-dokumen sejarah Suku Me dan daerah sekitarnya tidak pernah disebut nama Soekarno, kecuali nama dr Rubiono dan Adang Rusdy, seorang operator Radio Belanda – dan juga Ir Soekarno sebelum tahun 1945 belum pernah injak daerah pedalaman Irian. Tak lama kemudian pada bulan Agustus dan September 1942 tentara Jepang masuk ke daerah Paniai melalui Uta ke Oraya terus ke Enarotali. Cengkeraman kekuasaan Jepang di Paniai menyebabkan HPB de Bruijn terpaksa mengungsi ke Australia. Dalam pengungsian ini, ikut serta 26 pemuda Ekagi dan Migani. Mereka adalah Markus Yeimo, Piter Kadepa, Bernadus Gobay, Petrus Gobay, Kornelis Madai, Obeth Takimai, Erenius Mote, Yoakim Mote, Dominggus Mote, Bernadus Mote, Markus Goo, Kosmos Ekee dan Animalo Adi. Dari Merauke ada beberapa yang masuk polisi seperti Manatadi Gobay, Kaimodi Yogi, Bintang Gobay, Paulus Madai dan Yoseph Yeimo. Sedangkan yang lain masuk Batalyon Papua yang dibentuk tentara Sekutu untuk memerangi sisa-sisa tentara Jepang. Sementara itu, de Bruijn membawah tiga pemuda Ekagi ke Australia, masing-masing Karel Gobay, Zakeus Pakage dan Ikoko Nokuwo. Sementara itu Pater H. Tillemans dan dr. Rubiono bersama beberapa guru lainnya, berangkat dari Mapia menuju Enarotali untuk menunggu pesawat menuju Merauke. Di Enarotali P Tillemans dan rombongannya disembunyikan di gunung Bobaigo. Di gunung ini, dr Rubiono menangkap burung Garuda (Imu = penjaga gunung, menurut orang Mee).
Pada tanggal 24 Mei 1943 P Tillemans MSC dan rombongannya berangkat dengan pesawat terbang dari Enarotali ke Merauke. Dua hari setelah keberangkatan mereka, daerah Paniai dan sekitarnya diduduki oleh tentara Dai Nippon. Usai perang dunia kedua, misionaris dan zending kembali ke daerah Paniai dengan membawah tenaga-tenaga guru, suster, Pater untuk membangun daerah yang telah “dipagari Allah”. Dari Misi seperti Gerardus Ohoiwutun dan Bartholomeus Welerebun di Enarotali.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.