1. Keadaan Gereja Katolik Paroki Diyai Tahun 50an sampai awal Tahun 60an

Kagetpapua – DEIYAI | Foto Pertama ini diabadikan sekitar Tahun 50an oleh para Misionaris yang bertugas di daerah Meeuwo. Pada foto ini terlihat cukup jelas bahwa “pogouya” di lokasi pembangunan gereja yang masih kosong, namun kosongnya lokasi gereja bukan berarti gereja tersebut kosong. Di bagian atas, Anda bisa melihat bangunan sederhana. Itulah Gereja Katolik Diyai saat itu.
Pada tahun 50-an hingga awal 60-an, kondisi bangunan Gereja Katolik Paroki Diyai masih terlihat menggunakan rumput Alang-Alang pada atapnya.
Setiap hari minggu Umat Katolik Paroki Diyai beribadah di Gereja Sederhana itu.
2. Keadaan Gereja Katolik Paroki Diyai Tahun 1969

Foto kedua adalah, Gereja Diyai yang baru dibangun yang diabadikan pada tahun 1969 oleh seorang misionaris Belanda, Jos Donkers Ofm. Beliau adalah Pendeta Ofm serta Fotografer. Dia mengambil banyak foto lama di wilayah Meepago dan Lapago.
Pada foto kedua ini terlihat kondisi Gereja Katolik Paroki Diyai yang baru saja dibangun oleh para Tukang Kayu Mee sendiri dan dibantu oleh Pemuda/Pemudi Paroki Diyai. Tukang kayu Suku Mee dilatih oleh Misionaris, Salah satunya artisan atau tukang yaitu, (Almarhum, Martinus Bobii).

Bahan bangunan gereja berupa pondasi, papan, balok dan las dikumpulkan sendiri oleh umat Diyai. Umat Diyai sangat antusias dan bergotong royong dalam proses pengumpulan bahan bangunan dan penjatuhan bahan bangunan di Pagouya sebagai lokasi pembangunan Gereja.

Gereja Diyai yang baru dibangun pada tahun 1969 ini beratap seng dan menggunakan cat berwarna kuning kecoklatan. Di mana umat paroki mendapatkan Seng dan Cet?
Berkat Pastor Tettero yang saat itu menjabat sebagai Pastor Diyai, menulis surat untuk meminta bantuan agar Cet dan Seng diturunkan dari Biak dan Kokonau dengan menggunakan pesawat Cesna misionaris, setelah Pastor Carel yang bertugas di Kamu mengumpulkan berbagai berbagai alat-alat kebutuhan para Misionaris di Belanda.
Pada tahun yang sama juga, para misionaris di wisselmeren Meeuwo pernah melakukan pendropan alat-alat lainnya, setelah itu dibagikan kepada Masyarakat Wisselmeren Meeuwo.
Pada tahun yang sama, misionaris di Wisselmeren Meuwo menjatuhkan alat-alat lain, setelah itu dibagikan kepada setiap Komunitas di Meeuwo.
3. Keadaan Gereja Katolik Paroki Diyai Tahun 2000

Foto ketiga diambil pada tahun 2000 setelah Kiki van Bilsel yang merupakan paman dari Pastor Tettero datang mengunjungi paroki diyai.
Kondisi Gereja Katolik Paroki Diyai pada tahun 2000 tidak jauh berbeda dengan bangunan gereja yang didirikan pada tahun 1969. Hanya saja ada sedikit rehabilitasi dan perluasan di bagian kiri dan kanan Altar ditambahkan bangunan, sehingga Gereja terlihat seperti Salib.
Sehingga sampai saat ini kondisi Gereja Katolik Paroki Diyai masih seperti ini dan setiap hari Minggu umat paroki Diyai melaksanakan misa di gereja ini. Kegiatan keagamaan lainnya biasanya digelar di Pendopo yang didirikan pada 2016 saat Muspas Mee.
Penulis : Parex Tekege
Sumber foto: doc.Stichting Papua Erfgoed’s – Pro.album4flim2-178-007 Bowkerk Dijai / Diyai, pro.Album.IrianJaya-1-69-016, Pro.album4film321-021 Diaikerk dan Kiki van Bilsen gereja di Diyai thn 2000.
Klik Google – https://kagetpapua.art.blog
