Percuma Bekerja Kalau Tidak Berkebun Rohani

KagetpapuaTimika | Ada seorang petani yang sangat rajin bernama yimobi . Dia tinggal di sebuah desa kecil di Papua. Setiap hari, Yimobi bangun pagi-pagi untuk merawat kebunnya. Dia menanam berbagai jenis tanaman, mulai dari sayuran hingga buah-buahan. Kebunnya selalu tampak hijau dan subur, penuh dengan hasil panen yang melimpah.

Namun, meski yimobi sangat rajin dalam merawat kebunnya, dia selalu merasa ada yang kurang. Dia merasa hidupnya kosong dan tidak ada artinya. Dia merasa seolah-olah dia hanya menjalani rutinitas harian tanpa tujuan yang jelas.

Suatu hari, seorang bijak datang ke desa itu. Dia mendengar tentang kegelisahan Yimobi dan memutuskan untuk menemui dia. Sang bijak mengajarkan Yimobi bahwa, seperti merawat kebunnya, dia juga perlu merawat ‘kebun rohaninya’. Dia perlu menanam benih-benih kebaikan, kesabaran, dan kasih sayang dalam hatinya. Dia perlu menyirami benih-benih ini dengan doa dan meditasi, dan memupuknya dengan tindakan baik dan pikiran positif.

Yimobi mulai menerapkan nasihat bijak itu dalam hidupnya. Dia mulai meluangkan waktu setiap hari untuk berdoa, meditasi, dan melakukan tindakan baik kepada orang lain. Dia merasa hidupnya menjadi lebih berarti dan penuh. Dia merasa seolah-olah dia telah menemukan tujuan hidupnya.

Ingatlah bahwa merawat kebun rohani bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dalam sehari. Ini membutuhkan waktu dan usaha yang konsisten. Tapi percayalah, hasilnya pasti akan sangat berharga.

Cerita ini mengajarkan kita bahwa, meski penting untuk merawat kebun jasmani kita, juga penting untuk merawat ‘kebun rohani‘ kita. Kita perlu menanam dan merawat benih-benih kebaikan dalam hati kita, dan memupuknya dengan tindakan baik dan pikiran positif. Hanya dengan cara ini, kita dapat merasa hidup kita penuh dan berarti.

Oleh, M Ukago Jr!