Membudayakan Membawa Noken Tradisi Papua

Noken adalah tas tradisi orang papua yang selalu pusatkan segala pengisian.

Tuhan sudah ciptakan berbagai macam suku dan budaya di teritori Papua.  Kebudayaan Papua banyak dan harus diperkenalkan. Salah satunya adalah noken, sebuah kebudayaan asli Papua yang telah ditetapkan menjadi warisan budaya UNESCO. Noken Sedunia 04 Desember 2012  oleh Tn. Titus Pekey

Noken merupakan sebuah tas tradisi asli masyarakat papua yang dibawa dengan menggunakan kepala. Bahannya terbuat dari serat kulit kayu yang digunakan untuk membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Sejatinya, papua juga terkenal dengan kekayaan alam yang terpendam di sana. Budaya dan kesenian Papua sangat bervariasi, yaitu bahasa lokal dari masing-masing suku kelompok etnik pakaian adat, rumah adat, tari-tarian tradisional, senjata tradisional, makanan khas Papua, musik tradisional, kerajinan tangan, dan lain-lain.

“Kegiatan ini merupakan salah satu strategi diplomasi dan upaya menguatkan ketahanan budaya bapua. Selain itu juga untuk mewujudkan ekosistem budaya dengan membangun jejaring kerja sama berbagai pihak, baik pemerintah, BUMN, komunitas, penggiat budaya dan UMKN dalam rangka meningkatkan perekonomian rakyat,” tambah Yayuk…

Noken Anggrek Tas Tradisi West Papua

Noken Anggrek  atau Tas tradisi asli buatan mama-mama Papua  yang dibuat dari berbagai bahan alami, bukan sekadar tas karena banyak nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Noken anggrek yang merupakan tas rajutan dari Papua lebih banyak dikenal, pembuatannya juga terus berkembang mengikuti dunia busana.

Dengan banyaknya jumlah suku di Papua, makna dan penggunaan noken anggrek pun beraneka ragam.

(“Noken itu Tas Tradisi bagi kita berkulit hitam dan berambut keriting Orang Papua yang sudah di wariskan oleh moyang kita. Mari Kawan, kita tetap melestarikan budaya kita “Noken”.) Selamat Hari Ulang Tahun Noken Sedunia 04 Desember 2012 hingga 04 Desember 2021.

@kagetpapua

HAI TANAHKU PAPUA ( I.S Kijne )

Hai Tanahku Papua

1. Hai Tanahku Papua, Kau Tanah Lahirku,
Kau Hendak Kukasihi, Sehingga Ajalku.


2. Kukasih Pasir Putih, di Pantaimu Senang,
Dimana Lautan Biru, Berkilat dalam Trang.


3. Kukasih Bunyi Ombak, Pemukul Pantaimu,
Nyanyian yang Selalu, Senangkan Hatiku.


4  Kukasih Gunung Gunung, Besar Mulialah,
dan Awan yang Melayang layang, Keliling Puncaknya.

5. Kukasih Hutan Hutan, Selimut Tanahku,

Kusuka Mengembara, dibawah naunganmu.


6. Kukasih Engkau Tanah, yang dengan Buahmu, Membayar kerajinan dan pekerjaanku.


7. Syukur BagiMu Tuhan, Kau brikan Tanahku,
Bri aku Rajin juga, Sampaikan MaksudMu.

𝙏𝘼𝙉𝘼𝙃 𝙋𝘼𝙋𝙐𝘼 (𝙔𝙖𝙣𝙘𝙚 𝙍𝙪𝙢𝙗𝙞𝙣𝙤)

===========================

𝘋𝘪𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘗𝘶𝘭𝘢𝘶𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘶𝘱𝘶𝘫𝘢 𝘚𝘭𝘢𝘭𝘶,

𝘛𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘗𝘢𝘱𝘶𝘢 𝘗𝘶𝘭𝘢𝘶 𝘐𝘯𝘥𝘢𝘩.

𝘏𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘓𝘢𝘶𝘵𝘮𝘶, 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘦𝘮𝘣𝘪𝘴𝘶 𝘚𝘭𝘢𝘭𝘶,

𝘊𝘦𝘯𝘥𝘳𝘢𝘸𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘉𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨 𝘌𝘮𝘢𝘴

𝘙𝘦𝘧𝘧:

𝘎𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 𝘎𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨, 𝘓𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘓𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩, 

𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘮𝘪𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪.

𝘒𝘢𝘶 𝘬𝘶𝘱𝘶𝘫𝘢 𝘴𝘭𝘢𝘭𝘶, 𝘒𝘦𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘢𝘮𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘴𝘰𝘯𝘢,

𝘚𝘶𝘯𝘨𝘢𝘪𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘳𝘢𝘴, 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘌𝘮𝘢𝘴,

𝘖𝘩 𝘠𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘛𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩.

@kagetpapua

Sebuah Skets Desain Kapela di Bukit Bintang Pagouya, Kab Deiyai Tigi Barat Papua

Struktur gereja paroki segala orang kudus diyai di tigi barat kab.Deiyai, Papua Tengah.

KagetpapuaDEIYAI | Struktur gereja paroki segala orang kudus diyai yang berbentuk bukit bintang pagouya di distrik Tigi barat, kabupaten deiyai. Papua Tengah. Sebagai potret proses tulisan tangan oleh Bapak Awikaituma Jr. Dipublikasikan sejak empat bulan lalu ke dalam akun YouTube pribadinya.

Bukit bintang Pagouya  memiliki banyak sejarah.  Bukit itu berbentuk bintang, tempat peradaban memulai tempat suci!

Dalam sebuah karya desain, setiap guratan tangan selalu memiliki arti.
Guratan guratan, terkadang muncul bukan karena seni lukisnya, melainkan guratan tangan merupakan ekspresi hasil perenungan dan berkhayal panjang.

Pekerjaan lukisan itu hanya sebentar saja namun dihabiskan waktu untuk penyerbuan dan khayalan. Hanya butuh kertas dan pulpen dari warung pinggir jalan.  Itu cukup untuk mulai bekerja ..!

Tiada misteri, tiada penghapus, garis yang salah pula memiliki arti..!
Meskipun tidak ada alat penunjang yang penting, skets yang penuh konsep.

Sebuah karya seni terlahir dengan konsepnya dan tidak semudah itu bisa dirombak oleh orang lain.

Konsep desain tak lain adalah  terjemahan dari peradaban, Karya Leluhur dan nilai Tradisi serta kondisi Alamnya.

Sebuah karya terkadang untuk menghidupkan nilai-nilai peradaban yang mungkin akan mati. Demikian karya pula terkadang untuk  mempertegas  nilai-nilai budaya dan fenomena alam lokal yang ada.

Karya hari ini adalah sejarah hidup bagi generasi muda yang akan datang.

Gambar akhir sebenarnya adalah terjemahan dari konsep desain.
Hasil gambar tidak perlu cantik, yang utama adalah semua konsep sudah ditulis!

Mengintai dini hari ketika petang

Piringan matahari mulai lenyap, Amungsa: 13 Nov 22

Piringan matahari mulai lenyap, memberi isyarat pada langit biru, untuk sejenak mengalah, dalam dekapan senja

Menuju malam, senja mulai menyombongkan paras, seolah tak mungkin terhapus, oleh kelam yang sunyi

Mendekap malam, seru angin di tengah kesunyian, untuk temani jiwa sepi yang gamang sulit memejam.

@kagetpapua

Bangun Citra Diri Dengan Tekun

Sungai di kawasan pelabuhan Pomako Timika, 09 November 2022

Bangun Citra Diri Dengan Tekun merupakan apa yang telah kita capai sekarang adalah hasil dari usaha kecil yang kita lakukan secara terus menerus.  Sukses bukanlah sesuatu yang jatuh begitu saja.  Jika kita yakin dengan tujuan dan jalan kita, maka kita terus memiliki ketekunan untuk terus berusaha, ketekunan adalah kemampuan kita untuk bertahan di tengah tekanan dan kesulitan.

Kami harus terus mengambil langkah berikutnya.  Jangan hanya berhenti di langkah pertama.  Memang, semakin jauh kita berjalan, semakin banyak rintangan yang kita hadapi.  Bayangkan, jika kemarin kita berhenti, maka hari ini kita tidak ada.

Setiap langkah meningkatkan harga diri kita, apapun yang kita lakukan, tidak kehilangan ketekunan kita.  Karena ketekunan adalah daya tahan kita.

Pepatah mengatakan bahwa seribu kilometer langkah dimulai dengan satu langkah.  Sebuah langkah besar sebenarnya terdiri dari banyak langkah kecil, dan langkah awal kesuksesan harus kita mulai dari rumah kita sendiri.  Rumah terbaik adalah hati kita, itu adalah tempat terbaik untuk memulai dan kembali.

Mulailah merencanakan strategi.  Mulailah melakukan apa pun yang mengarah pada impian kita.

Karena tindakan ini akan membawa kita lebih dekat ke target yang tepat.  Jika Anda belum bisa melakukan hal-hal besar, cukup dengan hal-hal kecil.  Yang jelas, telah mengambil tindakan untuk berubah.

Ambil tindakan untuk perubahan meskipun itu hanya hal kecil. Setelah itu lakukan tindakan korektif agar yang kecil berubah menjadi besar.

@kagetpapua

RD YT Matopai You Tercatat Uskup OAP Pertama

Doc, Foto  (Patoga) Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr.

KagetpapuaNABIRE | Pemimpin tertinggi Gereja Katolik se Dunia, Paus Fransiskus memilih Romo sebagai Uskup Keuskupan Jayapura. Terpilihnya, Matopai You merupakan sejarah besar  bagi Orang Asli Papua (OAP) khususnya beragama Katolik, karena Pater Yan You begitu sapaannya ini akan tercatat sebagai uskup orang asli Papua pertama dalam sejarah gereja Katolik, tidak hanya di Papua tetapi sejarah gereja Katolik se dunia.

Uskup Jayapura, Mqr Leo Laba Ladjar, OFM saat membacakan Maklumat Sri Paus melalui surat Nuntio, Duta Vatikan menyampaikan kepada Uskup Jayapura, agar mengumumkan di gereja lokal di Keuskupan ini bahwa Bapa Suci Paus Frnsiskus telah mengangkat seorang untuk menjadi Uskup Jayapura yang baru, meneruskan karya Uskup. Berita ini dipublikasikan persisnya pada moment ini di Roma dan di seluruh dunia. “Karena perbedaan waktu, di sana jam 12, kita antara jam 7 dan jam 8,” jelas Uskup Leo Laba Lajar,ofm saat mengumumkan uskup baru yang terpilih dari Gereja Katedral Jayapura, Papua. Sabtu (29/10/22).  

Orang yang diangkat oleh Paus untuk menjadi Uskup yang baru di Keuskupan Jayapura dalam surat Duta Vatikan (Nuntio Apostolik) dalam bahasa Indonesia disebut dengan Romo. Tapi dalam surat dari Sri Paus berbahasa latin, disebut RD (Reverendus Dominus) artinya tuan yang terhormat. Uskup Leo menyebutnya, Romo RD Pastor Yanuarius Theofilus Matopai You,pr.

Uskup Jayapura, Leo Laba Lajar mengingatkan, untuk sementara waktu RD Yanuarius Theofilus Matopai You belum uskup, nanti sudah ditahbiskan dulu.

Matopai lahir di Uwebutu, 1 Januari 1961, ayah Lukas You, seorang guru SD di kampung yang terletak di bawah Gunung Deiyai, ujung barat Danau Tage, Kabupaten Paniai. Patoga Matopai merupakan anak pertama dari empat bersaudara dan seorang puteri.

Menyelesaikan pendidikan dasarnya di Uwebutu melanjutkan pendidik menegahnya di SMP YPPK St Fransiskus Epouto, ujung timur Danau Tage. SMP YPPK Epouto sendiri dipindakan ke Moanemani pada akhir tahun ajaran 1979.

Selepas tanah kelahiran di Tage, melanjutkan pendidikannya di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Teruna Bhakti, Waena, Jayapura. Pendidikan SPG itu sendiri setelah ditutup pemerintah, kini jadi SMA Teruna Bhakti. Tamat melanjutkan pendidikan tinggi Sekolah Tinggi Filsafat dan Theologi (STFT) Fajar Timur Abepura.

Sebelum Sri Paus Fransiskus memilihnya menjadi Uskup Jayapura, Matopi menempuh pendidikan S2 bidang Psikologi di Universitas Gaja Mada (UGM) dan menenpuh pendidikan doktor Antropologi di Universitas Cenderawasih, Jayapura.

Ditahbiskan di Nabire

Setelah melalui pendidikan yang panjang dan pembinaan yang lama, Diakon Yanuarius Theofilus You ditahbiskan sebagai iman projo di Nabire, 16 Januari 1991.

Pengabdian pastoral, sesuai Curiculum Vitae yang dibacakan Uskup Leo, Pastor Paroki Kristus Terang Dunia, Dekan Dekenat Kerom dan Pastor Paroki St Wilibrordus Arso, Vikaris Jenderal Keuskupan Jayapura dan Pastor Paroki Katedral Jayapura, Ketua Yayasan STTK, Kepala di Rumah Pembentukan Formasi St Yohanes Maria Viane Keuskupan Jayapura, Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Jayapura, Ketua Pengawas Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) St Fransiskus Asisi, sekarang Ketua dan Dosen di STFT Fajar Timur dan juga di Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK). (ans)

Tari Tradisional Sambut Imam Baru dan Diakon di Paroki Sempan Timika

Minggu, 16 Oktober 2022 16:32 WIT

Keluarga menandu Diakon Ricky Yeuyaan, Pr menuju gereja untuk ditahbiskan sebagai imam, Minggu (16/10/2022). Keluarga juga mengiringinya dengan tarian dan lagi tradisional. (Foto: Yonri/Seputarpapua)

KagetpapuaTIMIKA | Beragam tari-tarian dan musik tradisional menyambut kedatangan tiga calon imam dan dua calon diakon di Gereja Paroki St Stefanus Sempan Timika, Papua Tengah pada Minggu (16/10/2022).

Ketiga calon imam yang akan ditahbiskan hari ini yakni, Diakon Emanuel Buang Lela, Pr, Diakon Theodorus Yoseph Tepa, OFM, dan Diakon Ricky Carol Yeuyanan, Pr.

Sedangkan dua calon diakon yakni Fr. Alpius Alpen Mujijau, OFM dan Fr. Domisius Wandi Batoteng Raya, OFM.

Diakon Emanuel dibawa oleh keluarga menghadap Uskup Keuskupan Sorong-Manokwari, Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr dengan tarian khas Nusa Tenggara Timur.

Diakon Theo, diiringi tarian Suku Mimika Wee (Kamoro) dan nyanyian tradisional.

Sedangkan Diakon Ricky diiringi tarian khas Suku Kei. Diakon Ricky bahkan ditandu oleh keluarga sambil bernyanyi di dalam dekorasi perahu.

Dua calon diakon, yakni Fr. Alpius dan Fr. Domisius juga diiringi keluarga tidak kalah meriah.

Fr. Domisius diiringi nyanyian dan tarian tradisional khas Toraja. Sedangkan Fr. Alpius yang datang paling terakhir juga tidak kalah meriah.

Fr. Alpius diiringi tari dan nyanyian khas Papua Pegunungan. Atmosfer kegembiraan pun menggema di sekitaran Gereja St. Stefanus Sempan.

Mgr. Hilarion yang menunggu di depan pintu gerbang gereja pun menyambut seluruh iman dan diakon.

“Saya menyambut saudara Theodorus Yoseph Tepa, OFM sebagai Pater,” kata Hilarion ketika menyambut Diakon Theodorus beserta keluarga.

Gelar diskusi ancaman penyakit sosial perkembangan modern, bertepatan dengan HUT Komunitas Getar 109 yang ke-8

Dokumen foto di gubuk tua getar 109 yang berdomisili di Timika

Kagetpapua TIMIKA | Pada Momen HUT GETAR 109 yang Ke 8 tahun, Diskusi bebas tentang Pemuda dan Ancaman Penyakit sosial pasca Perkembangan modern ini di gubuk tua getar timika, Papua Tengah, pada, 25/06 2022.

Sebelumnya Getar 109 ini dibentuk sejak 25 Juni 2015 , sejak itu Kopi menghangatkan kita dan tertuai beberapa ide untuk tetap menjaga semangat dan persatuan Anak jalanan yang saat itu disatukan oleh Kopi.

Kini Getar hadir bukan lantaran Ego dan Ambisi sesama Komunitas namun bagaiman kita bersama berbagi pengalaman dan pengetahuan untuk mengurangi Kemalasan dan kebodohan akan pengetahuan dan perkembangan.

Getar yang kepanjangannya adalah Generasi Terlantar ini menampung Pemuda pemudi yang terlantar,  mabuk dan sering di jumpai mencium lem aibon. 

Dokumen foto, Getar Course Timika

Sedangkan 109 artinya One for All ( satu untuk semua)  tiada batasan usia dan suku sebab mengurangi nilai keterlantaran anak muda adalah tugas kita bersama .

Beginilah kami dan biarlah kami berada sesuai kekurangan dan keterbatasan kami untuk memandangi dunia yang luas ini. 

Oleh, Edo Dogopianago

Klik Google – https://kagetpapua.art.blog

Pemberian Bama kepada Anak-anak Sekolah di Asrama St Ignatius Timika

Serahkan Bama secara simbolis kasih sayang kepada anak-anak sekolah di asrama St. Ignatius timika.

KagetpapuaTIMIKA | Rombongan umat katolik pada gereja Kapela Tillemans Ema-Owaa, memberikan bama (bahan makanan) dan berupa donasi kepada anak-anak sekolah di Asrama St. Ignatius Timika, yayasan pendidikan puncak jaya SMAK, yang diterima oleh Ketua Yayasan,  Kepala Sekolah dan Kepala Asrama di Jalan Yosudarso.  Km 7-Sp.1, Papua Tengah Minggu (10/07/2022).

Kordinator seksi sosial pada Gereja Tillemans Ema-Owaa. Ibu. Bonafasya Tekege mengatakan bahwa, Kami datang kesini untuk membantu bama (bahan makanan) dengan apa yang bisa kami berikan sebagai bentuk kepedulian sesama.

Kami datang pula memberikan berupa donasi secara simbolis, kasih sayang kepada anak-anak sekolah untuk membeli perlengkapan mereka di sekolah. Ujar ibu. Tekege,

Kepala Yayasan SMAK Bapak. Ignatius Adii Mengatakan, bangunan yang ada ini dibangun oleh Departemen Pemerintah Kementerian Agama, sekaligus dengan lokasi yang luasnya sudah mencapai satu hektar memanjang.

yang belum timbun pasir ini akan di timbun karena rencana kedepan akan membangun sekolah 12 kelas. Ujar Bapak Adii

Ada tiga perempuan dari suku Mee yang baru bertugas dan mengajar di SMAK (sekolah menengah agama katolik). Jelas Adii

Kata bapak. Ignatius Adii, Tahun ini hanya ada 4 laki-laki dan 4 perempuan yang telah membawa oleh kedua pastor antara pr. Yogi dan pr. Bunai, jadi ada 8 orang.

Selain itu Pak. Adii mengatakan bahwa, setelah selesai timbunan di belakang Kapela Tillemans Ema-Owaa di timika indah, kita akan membahas TK, jika memang benar-benar di bawah pengelolaan yayasan di sini.

Kalau itu YPPK, nantikan akan campur tangan dengan orang lain atau yayasan lain akan mengganggu jadi mari kita memilikinya sehingga mereka dapat mengelolanya sendiri dengan caranya sendiri. Tandasnya (*)

Klik Google – https://kagetpapua.art.blog

Mengetahui isi lebih penting daripada menilai kejelekan sampulnya

Membaca buku para Omk Kapela Tillemans Ema-Owaa di timika.

KagetpapuaTIMIKA | Jangan menilai buku dari sampulnya. Jika menilai buku dari sampulnya, kamu mungkin kehilangan cerita yang luar biasa didalamnya. Kenali lebih penting bukan dari kata orang lain karena pandangan dan penyelidikan kita tak selalu sama.

Tapi terkadang penilaian itu justru datang dari orang yang sama sekali tidak mengenal dengan baik. Mereka tidak tahu bagaimana isi tulisan aslinya, dan bagaimana sosok yang sebenarnya.

Dengan uraian diatas saya menyelubungi kebiasaan manusia yang selalu pempraktikkan orang lain. Hati-hati dalam menilai dan menghalimi orang. Takut-takut apa yang kita tabur pada orang, itu yang akan subur dalam diri kita.

Salah satu yang paling menyebalkan dalam hidup ini adalah bertemu orang-orang yang dengan mudah menilai diri kita. Entah itu dari penampilan, dari cerita orang, atau dari masa lalunya. Jujur, kita bersikap seperti itu bukan berarti kita anti dengan kritikan, karena kita sadar biasanya kritikan itu dapat membangun menjadi lebih baik.

Sudah menjadi tradisi bahwa kebanyakan dari kita menilai itu dari penampilannya. Jika seseorang berpenampilan baik, maka mungkin orang tersebut adalah orang yang baik.

Kita juga bisa saja menilai dari apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya. Jika ada seseorang yang mengatakan orang tersebut tidak baik, maka kita ikut-ikutan menganggap ia tidak baik. Begitu juga dengan masa lalunya.

Teruntuk mereka yang gampang mendeskripsikan seseorang, sadarlah bahwa seseorang bisa saja berubah tanpa sepengatahuan orang lain.

Tidak perlu menghakimi jika kamu sendiri tidak tahu kenyataan yang sebenarnya. Karena takutnya, apa yang kamu nilai dari seseorang akan menyerang dirimu sendiri. Jadi berhati-hatilah menilai seseorang.

Niat adalah ukuran untuk menilai benarnya suatu perbuatan. Jika niatnya benar, maka perbuatan akan benar, dan jika niatnya buruk maka perbuatan itu buruk.

Terkadang apa yang kita lakukan baik tak selalu dinilai baik oleh orang lain. Tapi tak mengapa, karena Allah tidak pernah salah menilai hambanya.

Klik Google – https://kagetpapua.art.blog

Kita Cipta Bahagia Disini!

Kebersamaan kita
Kebersamaan kita, berdiri di bawah kaki bukit motoya.

KagetpapuaDEIYAI: Kita berdiri di dusun kampung Diyai dibawah kaki bukit Motaya. Disinilah Kita menemukan kebahagiaan dan rasa memiliki kehidupan keluarga, persaudaraan yg baik, sebab mereka itulah harta langsung dari Tuhan Esa.

Rasa bangga dan syukur adanya saudara terbaik yg kita ekspresikan melalui kata-kata, canda dan tawa. Kita juga bisa mengungkapan perasaan bahagia kita atas kehadiran mereka di hidup kita selama ini.

Persaudaraan sejati yg akan selalu ada tuk kita, apa pun yg terjadi. Persaudaraan dan pertemanan yg baik tidak tergantikan oleh apa pun. Mereka bisa menginspirasi kita tuk tumbuh menjadi versi diri kita yg lebih baik.

Menguatkan ikatan persaudaraan dgn mereka. Dgn begitu, persaudaraan yg kita jalin dapat selalu terjaga, dan tak lekang oleh waktu dan zaman.

Memiliki persaudaraan dan teman sejati tuk berbagi kehidupan adalah anugerah terbaik dalam hidup daripada harta benda lainnya.

Klik Google – https://kagetpapua.art.blog

Meriahkan HUT ke-3 Gereja Katholik Kapela Tillemans Ema-Owaa TIMIKA

Pastor Okto taena.Pr bersama Para tokoh-tokoh di Kapela Tillemans Ema-Owaa.

KagetpapuaTIMIKA | Gereja Katholik Kapela Tillemans Hati Kudus Yesus Ema-Owa merayaan HUT (Hari Ulang Tahun) yang ke-3 di warnai pertunjukan Seni dan Budaya Suku Mee.

Selain itu, dihadiri ratusan umat Katholik dan para tokoh lintas agama yang meriah di Gereja kapela Tillemans Hati Kudus Yesus Ema-Owaa, dan disiarkan juga secara Live Streaming Multimedia Tiga Raja Timika. Pada 08 Desember 2021 pukul 10.00 Wp. Di Kapela Tillemans Ema-Owaa Timika, Papua Tengah.

Dalam perayaan HUT ini pula, berlangsung semarak dengan adanya penampilan seniman, budayawan serta vokal grup musik umat gereja katolik Kapela Tillemans “Ema-Owaa di Timika.

Ibadah Syukur HUT ke-3 dilayani oleh Pastor. Oktovianus Taena Pr. Dalam khotbahnya diambil dari bacaan Injil Lukas 1:26-38.

Sebagai umat Katolik tentunya Bunda Maria sudah tidak asing lagi bagi kita, Bunda Maria adalah seorang wanita pilihan Tuhan dari antara semua wanita yang ada di muka bumi ini.

Bagi umat Katolik, Bunda Maria adalah wanita istimewa, jika bagi saudara-saudara kita yang beragama lain mungkin tidak percaya tetapi kita umat Katolik sungguh percaya bahwa Maria adalah Bunda ibu Yesus dan segala bangsa.

Motivasi dan metode yang tepat dalam Tuhan dapat menjadikan kualitas pelayanan yang tepat untuk tetap setia kepada Tuhan.

Selain itu, Ketua Panitia HUT dan Natal Gereja Katolik Kapela Tillemans Ema-Owaa, Bapak Lukas Magai dalam sambutannya mengatakan bahwa atas nama Pastor Herman tillemans, beliau memimpin rumah doa dan berbagai lagu sambil mengajak masyarakat Suku Mee untuk tepuk tangan dengan keras. Kami telah memuji leluhur kami, nenek moyang kami, dan mantan perintis kami.

Magai melanjutkan, Pastor Okto Taena dan Tim Pastoral sedang mempersiapkan hal-hal yang luar biasa. Kami masyarakat menyambut baik Pater Okto Taena sebagai pengganti pater Tillemans. Demikian juga, para malaikat Tuhan bersorak di kiri dan kanan kami dan Tim Media Tiga Raja juga bersama kami.

Berbahagialah mereka dan kita semua hari ini merayakan ulang tahun ke-3 Kapela Tillemans Ema-Owaa. Di Jalan Perintis Timika Indah Papua pada 8 Desember 2021. Perlindungan kami adalah tradisi dan ajaran gereja Katolik Roma, kata Magai.

Ketua Kerukunan Suku Mee Katolik di Timika, Bapak Alfons Dogopia mengucapkan terima kasih kepada bapak Pastor. Oktovianus taena dan krunya serta Tim Tiga Raja Multi Media yang tidak pernah lelah melayani kami, sehingga kami bosan melihat mereka di Kapel Tillemans Ema-Owaa.

Saya mengucapkan terima kasih kepada panitia yang telah menyampaikan laporan-laporan yang telah melaksanakan kegiatan selama ini, dan saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Lukas Magay yang tidak pernah bosan untuk hadir walaupun hanya bersama dengan Pemuda Katolik (OMK) di tempat ini. Omk hadir karena ada Pak Lukas, kata Dogopia.

Pak Alfons Dogopia mengapresiasi, dalam 3 tahun Tillemans telah melahirkan 3 orang anak yaitu,

1. Badan Pimpinan Kapel Tillemans Ema-Owaa Timika

2. Pemuda Katolik, OMK

3 Lokasi Gereja Katolik Kapel Tillemans Ema-Owaa timika

Perayaan HUT ke-3 ini diakhiri dengan pemotongan kue ulang tahun yang dibagikan kepada warga toko gereja yang hadir di kapel tillemans Ema Owaa.

Pada kesempatan terpisah. Ibu Ida dawapa menyerahkan hadiah untuk pertandingan Bola Voli dan bola futsal yang telah dipertandingkan sebelum ulang tahunnya (HUT).

Klik Google – https://kagetpapua.art.blog