Di Bawah Kubah, Jari Menari

Senja merangkak, menyelimuti kota,
Hati sepi, merindukan kata.
Langkah kaki menjejakkan diri,
Menuju gereja, mencari sunyi.

Kubah menjulang, menyapa jiwa,
Menawarkan damai, menghapus duka.
Di bangku kayu, duduk terdiam,
Menatap piano, hati berbisik dalam.

Jari-jari meraba tuts piano,
Melukis melodi, mengurai rindu.
Nada mengalun, menenangkan jiwa,
Menghilangkan sepi, menyapa bahagia.

Dalam lantunan, hati bernyanyi,
Menyapa Tuhan, dalam sunyi.
Kesenangan tercipta, di tengah sepi,
Melalui melodi, hati terbebas dari mimpi.

Di sini, di bawah kubah yang meneduhkan,
Jari menari, hati menemukan.
Hiburan tercipta, dalam lantunan nada,
Menyembuhkan luka, menenangkan jiwa.

Puisi, MU
Timika, 02 Agustus 2024.

Baik dan Buru Tak Pernah Padam

KagetpapuaTimika | .BlDuduk bersama dan menikmati waktu santai di malam hari, kami memulai diskusi tentang konsep baik dan buruk tak pernah padam. Topik ini menjadi dasar pembicaraan kami malam ini di Jl. Koteka Timika Papua Tengah. Selasa 05 Maret 2024.

Tempat keberadaan yang baik tentu saja dibalut dengan sesuatu yang buruk, demikian tempat keberadaan yang buruk mengandung sesuatu yang terbaik

Di dalam setiap tempat keberadaan, baik itu di lingkungan fisik maupun dalam kehidupan sehari-hari, terdapat keberagaman yang mencakup baik dan buruk. Meskipun demikian, seringkali tempat-tempat yang dianggap buruk juga memiliki potensi yang tersembunyi untuk menjadi sesuatu yang terbaik.

Misalnya, sebuah lingkungan kota yang dianggap buruk karena tingkat kejahatan yang tinggi dan infrastruktur yang kurang terawat. Meskipun demikian, di dalam kota tersebut terdapat komunitas yang kuat yang saling mendukung satu sama lain. Mereka membangun ikatan sosial yang erat dan berusaha untuk menciptakan perubahan positif di lingkungan mereka. Tempat keberadaan yang buruk ini menjadi pusat kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Demikian juga dengan kehidupan sehari-hari, seringkali kita menghadapi tantangan dan kesulitan yang membuat tempat keberadaan kita terasa buruk. Namun, di balik semua itu, kita dapat belajar, tumbuh, dan mengembangkan diri. Pengalaman-pengalaman sulit tersebut membentuk karakter kita dan memberi kita pelajaran berharga yang tidak akan kita dapatkan jika semuanya berjalan mulus. Tempat keberadaan yang buruk ini menjadi tempat di mana kita dapat menemukan kekuatan dan ketahanan yang tersembunyi dalam diri kita.

Dalam kesimpulannya, tempat keberadaan yang baik dan buruk memiliki aspek yang saling melengkapi. Tempat keberadaan yang buruk dapat mengandung potensi untuk menjadi sesuatu yang terbaik ketika kita mampu menghadapi tantangan dan menemukan kekuatan dalam diri kita.

Klik Google – https://kagetpapua.art.blog

Kita menghargai kota tetapi kita juga mencintai kampung.

KagetpapuaTimika | Tempat tinggal kita di kota adalah tempat yang penuh dengan keajaiban. Gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, taman-taman yang indah, dan keramaian yang menghidupkan suasana. Kita menghargai keberagaman budaya dan kesempatan yang ditawarkan oleh kota.

Meskipun kota menawarkan banyak hal menarik, Anda juga menyadari pesona kampung halaman Anda. Kampung dengan rumah-rumah tradisional, kebunan yang hijau, dan masyarakat yang akrab. Anda mencintai kehangatan dan kebersamaan yang terasa di kampung halaman.

Anda belajar untuk menghargai kota tempat tinggal Anda dengan menjaga kebersihan, mematuhi peraturan, dan berkontribusi dalam pembangunan kota. Namun, Anda juga tidak pernah melupakan akar Anda di kampung halaman. Anda mengunjungi kampung secara teratur, membantu masyarakat, dan menjaga tradisi-tradisi yang berharga.

Anda menyadari bahwa menghargai kota dan mencintai kampung halaman tidak saling bertentangan. Anda dapat memadukan kedua dunia ini dengan baik. Anda membawa nilai-nilai dan kearifan dari kampung halaman ke kota, dan sebaliknya, membawa inovasi dan kemajuan dari kota ke kampung.

(Adegan: Anda berjalan di antara gedung-gedung perkotaan dengan baju adat kampung, tersenyum dengan bangga atas identitas Anda yang unik.)

Dan itulah cerita tentang pentingnya menghargai kota tempat tinggal kita, tetapi juga mencintai kampung halaman kita.

Klik Google – https://kagetpapua.art.blog

Sebuah Skets Desain Kapela di Bukit Bintang Pagouya, Kab Deiyai Tigi Barat Papua

Struktur gereja paroki segala orang kudus diyai di tigi barat kab.Deiyai, Papua Tengah.

KagetpapuaDEIYAI | Struktur gereja paroki segala orang kudus diyai yang berbentuk bukit bintang pagouya di distrik Tigi barat, kabupaten deiyai. Papua Tengah. Sebagai potret proses tulisan tangan oleh Bapak Awikaituma Jr. Dipublikasikan sejak empat bulan lalu ke dalam akun YouTube pribadinya.

Bukit bintang Pagouya  memiliki banyak sejarah.  Bukit itu berbentuk bintang, tempat peradaban memulai tempat suci!

Dalam sebuah karya desain, setiap guratan tangan selalu memiliki arti.
Guratan guratan, terkadang muncul bukan karena seni lukisnya, melainkan guratan tangan merupakan ekspresi hasil perenungan dan berkhayal panjang.

Pekerjaan lukisan itu hanya sebentar saja namun dihabiskan waktu untuk penyerbuan dan khayalan. Hanya butuh kertas dan pulpen dari warung pinggir jalan.  Itu cukup untuk mulai bekerja ..!

Tiada misteri, tiada penghapus, garis yang salah pula memiliki arti..!
Meskipun tidak ada alat penunjang yang penting, skets yang penuh konsep.

Sebuah karya seni terlahir dengan konsepnya dan tidak semudah itu bisa dirombak oleh orang lain.

Konsep desain tak lain adalah  terjemahan dari peradaban, Karya Leluhur dan nilai Tradisi serta kondisi Alamnya.

Sebuah karya terkadang untuk menghidupkan nilai-nilai peradaban yang mungkin akan mati. Demikian karya pula terkadang untuk  mempertegas  nilai-nilai budaya dan fenomena alam lokal yang ada.

Karya hari ini adalah sejarah hidup bagi generasi muda yang akan datang.

Gambar akhir sebenarnya adalah terjemahan dari konsep desain.
Hasil gambar tidak perlu cantik, yang utama adalah semua konsep sudah ditulis!