Baik dan Buru Tak Pernah Padam

KagetpapuaTimika | .BlDuduk bersama dan menikmati waktu santai di malam hari, kami memulai diskusi tentang konsep baik dan buruk tak pernah padam. Topik ini menjadi dasar pembicaraan kami malam ini di Jl. Koteka Timika Papua Tengah. Selasa 05 Maret 2024.

Tempat keberadaan yang baik tentu saja dibalut dengan sesuatu yang buruk, demikian tempat keberadaan yang buruk mengandung sesuatu yang terbaik

Di dalam setiap tempat keberadaan, baik itu di lingkungan fisik maupun dalam kehidupan sehari-hari, terdapat keberagaman yang mencakup baik dan buruk. Meskipun demikian, seringkali tempat-tempat yang dianggap buruk juga memiliki potensi yang tersembunyi untuk menjadi sesuatu yang terbaik.

Misalnya, sebuah lingkungan kota yang dianggap buruk karena tingkat kejahatan yang tinggi dan infrastruktur yang kurang terawat. Meskipun demikian, di dalam kota tersebut terdapat komunitas yang kuat yang saling mendukung satu sama lain. Mereka membangun ikatan sosial yang erat dan berusaha untuk menciptakan perubahan positif di lingkungan mereka. Tempat keberadaan yang buruk ini menjadi pusat kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Demikian juga dengan kehidupan sehari-hari, seringkali kita menghadapi tantangan dan kesulitan yang membuat tempat keberadaan kita terasa buruk. Namun, di balik semua itu, kita dapat belajar, tumbuh, dan mengembangkan diri. Pengalaman-pengalaman sulit tersebut membentuk karakter kita dan memberi kita pelajaran berharga yang tidak akan kita dapatkan jika semuanya berjalan mulus. Tempat keberadaan yang buruk ini menjadi tempat di mana kita dapat menemukan kekuatan dan ketahanan yang tersembunyi dalam diri kita.

Dalam kesimpulannya, tempat keberadaan yang baik dan buruk memiliki aspek yang saling melengkapi. Tempat keberadaan yang buruk dapat mengandung potensi untuk menjadi sesuatu yang terbaik ketika kita mampu menghadapi tantangan dan menemukan kekuatan dalam diri kita.

Klik Google – https://kagetpapua.art.blog

Mengintai dini hari ketika petang

Piringan matahari mulai lenyap, Amungsa: 13 Nov 22

Piringan matahari mulai lenyap, memberi isyarat pada langit biru, untuk sejenak mengalah, dalam dekapan senja

Menuju malam, senja mulai menyombongkan paras, seolah tak mungkin terhapus, oleh kelam yang sunyi

Mendekap malam, seru angin di tengah kesunyian, untuk temani jiwa sepi yang gamang sulit memejam.

@kagetpapua

Mengetahui isi lebih penting daripada menilai kejelekan sampulnya

Membaca buku para Omk Kapela Tillemans Ema-Owaa di timika.

KagetpapuaTIMIKA | Jangan menilai buku dari sampulnya. Jika menilai buku dari sampulnya, kamu mungkin kehilangan cerita yang luar biasa didalamnya. Kenali lebih penting bukan dari kata orang lain karena pandangan dan penyelidikan kita tak selalu sama.

Tapi terkadang penilaian itu justru datang dari orang yang sama sekali tidak mengenal dengan baik. Mereka tidak tahu bagaimana isi tulisan aslinya, dan bagaimana sosok yang sebenarnya.

Dengan uraian diatas saya menyelubungi kebiasaan manusia yang selalu pempraktikkan orang lain. Hati-hati dalam menilai dan menghalimi orang. Takut-takut apa yang kita tabur pada orang, itu yang akan subur dalam diri kita.

Salah satu yang paling menyebalkan dalam hidup ini adalah bertemu orang-orang yang dengan mudah menilai diri kita. Entah itu dari penampilan, dari cerita orang, atau dari masa lalunya. Jujur, kita bersikap seperti itu bukan berarti kita anti dengan kritikan, karena kita sadar biasanya kritikan itu dapat membangun menjadi lebih baik.

Sudah menjadi tradisi bahwa kebanyakan dari kita menilai itu dari penampilannya. Jika seseorang berpenampilan baik, maka mungkin orang tersebut adalah orang yang baik.

Kita juga bisa saja menilai dari apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya. Jika ada seseorang yang mengatakan orang tersebut tidak baik, maka kita ikut-ikutan menganggap ia tidak baik. Begitu juga dengan masa lalunya.

Teruntuk mereka yang gampang mendeskripsikan seseorang, sadarlah bahwa seseorang bisa saja berubah tanpa sepengatahuan orang lain.

Tidak perlu menghakimi jika kamu sendiri tidak tahu kenyataan yang sebenarnya. Karena takutnya, apa yang kamu nilai dari seseorang akan menyerang dirimu sendiri. Jadi berhati-hatilah menilai seseorang.

Niat adalah ukuran untuk menilai benarnya suatu perbuatan. Jika niatnya benar, maka perbuatan akan benar, dan jika niatnya buruk maka perbuatan itu buruk.

Terkadang apa yang kita lakukan baik tak selalu dinilai baik oleh orang lain. Tapi tak mengapa, karena Allah tidak pernah salah menilai hambanya.

Klik Google – https://kagetpapua.art.blog

Kita Cipta Bahagia Disini!

Kebersamaan kita
Kebersamaan kita, berdiri di bawah kaki bukit motoya.

KagetpapuaDEIYAI: Kita berdiri di dusun kampung Diyai dibawah kaki bukit Motaya. Disinilah Kita menemukan kebahagiaan dan rasa memiliki kehidupan keluarga, persaudaraan yg baik, sebab mereka itulah harta langsung dari Tuhan Esa.

Rasa bangga dan syukur adanya saudara terbaik yg kita ekspresikan melalui kata-kata, canda dan tawa. Kita juga bisa mengungkapan perasaan bahagia kita atas kehadiran mereka di hidup kita selama ini.

Persaudaraan sejati yg akan selalu ada tuk kita, apa pun yg terjadi. Persaudaraan dan pertemanan yg baik tidak tergantikan oleh apa pun. Mereka bisa menginspirasi kita tuk tumbuh menjadi versi diri kita yg lebih baik.

Menguatkan ikatan persaudaraan dgn mereka. Dgn begitu, persaudaraan yg kita jalin dapat selalu terjaga, dan tak lekang oleh waktu dan zaman.

Memiliki persaudaraan dan teman sejati tuk berbagi kehidupan adalah anugerah terbaik dalam hidup daripada harta benda lainnya.

Klik Google – https://kagetpapua.art.blog

Terlihat Unik Dan Terinspirasi Untuk Umat Kapela Tillemans (Ema Owaa) Timika

Kandang natal yang unik versi rumah adat suku (mee)

KagetpapuaTIMIKA | Suasana halaman Gereja Kapela Tillemans Ema-Owaa Timika sudah tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kini sudah terlihat unik dan terinspirasi untuk umat katolik Suku Mee yang berasal dari tiga daerah yakni, kab. Deiyai, Dogiya dan Paniyai. Pada umumnya kegataka hingga makataka yang berdomisili di Timika, Papua Tengah.

Kandang dan pohon natal ini didirikan di atas tumpukan batu campur pasir yang telah umat katolik menjadikan rupa bukit dan dikelilingi pagarnya yang mengkreasikan versi Rumah adat Mee yang biasanya disebut Ema-Owaa. Proses pembuatan selama 2 hari 1 malam pada tanggal 4 hingga 6 Desember 2021.

Didalam lingkungan pagar ini juga ada tanaman Pisang, keladi, tebu dan tanaman lokal lainnya. dengan menggunakan rangkaian lampu warna-warni di jalan perintis Timika  indah

Pada saat itu ada kabar baik bahwa, Pemda Mimika telah mengadakan lomba hias Kandang dan Pohon natal dalam rangka menyambut Natal 2021 dan Tahun Baru 2022.  Dalam lomba tersebut ada nama Gereja Kapela Tillemans Ema-Owaa pula terdaftar dalam lomba dengan no pendaftaran urutan 049. 

Adoooh, ternyata informasi yang didapat masyarakat tinggal dua hari lagi untuk datang dan melihat serta menilai kreativitasNya.

Ah Sayang! Waktu dan hari sudah mepet, namun OMK dan Umat kapela Tillemans Ema-Owaa tetap semangat dan menyepakati bahwa “Mulai Bekerja Sesuai Pendapat Masing-masing Orang”. Semua beralih kerjasama secara bergotong-royong selama dua hari satu malam berturut-turut hingga selesai.

Kami membuat gubuk ini bukan karena kompetisi dari pemerintah setempat, tetapi ini adalah sesuatu yang kami terbiasa disetiap natal namun ada sedikit perbedaan dengan sekarang hanya dengan pagar yang dikelilingi lokasi gubuk dan pohon Natal Serta tanaman lokal lainnya.

Anehnya disini ! Saat itu ada beberapa pemuda yang pulang dan pergi dengan motor mencari rotang, lumutan alam dan kayu buah pada petang hari di hutan.

Ya, tentu Anda juga ingin tahu bahan-bahan yang sudah dibuat oleh OMK dan Para Umat Kapela Tillemans Ema-Owaa!

1. Sebanyak Kayu Buah Berpotongan 1 Cm.

2. Rumput Alang-alang.

3. Lumut hutan alam.

4. Rotan berukuran panjang.

5. Lebih unik lagi, Botol Aqua yang kosong merupakan variasi pada bagian luar pohon Natal.

Di depan Kandang Natal/Betlehem dipasang papan bertuliskan tema Natal 2021, “Kasih Kristus Menggerakkan Persaudaraan 1 Petrus 1:22.

Kreativitas OMK dan Umat Kapela Tillemans Ema-Owaa Timika membuat rasa memiliki dan manfaat yang beragam.

Klik Google – https://kagetpapua.art.blog